DELISERDANG, METRODAILY – Curah hujan ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Deliserdang dalam beberapa pekan terakhir memukul petani cabai merah.
Akibat tingginya intensitas hujan, banyak petani terpaksa melakukan panen prematur untuk menghindari kerusakan tanaman dan kebusukan buah.
Relly, salah seorang petani cabai asal Deli Serdang, mengaku terpaksa memanen cabai dalam kondisi masih hijau karena lahan terus tergenang air. Jika dipaksakan menunggu merah, buah berisiko busuk dan merugikan petani.
Baca Juga: Polsek Aek Natas Salurkan Sembako Door to Door di Labura
"Belakangan ini hujan terus, bahkan hari ini seharian penuh. Minggu lalu hujan deras dan akhirnya kami terpaksa panen cepat. Kualitas jelas terganggu karena banyak cabai dipetik hijau, harusnya bisa dibiarkan sampai merah," ujarnya, Senin (20/10).
Relly menambahkan, tanaman cabai tidak bisa bertahan lama dalam kondisi lahan tergenang air.
"Kalau tiga hari berturut akar terendam, tanaman mulai busuk. Jadi kami tidak punya pilihan selain panen lebih cepat," lanjutnya.
Baca Juga: HUT Golkar di Labura, Seribu Paket Sembako Dibagikan untuk Anak Yatim dan Dhuafa
Selain menurunkan kualitas panen, cuaca buruk juga menghambat persiapan olah lahan menjelang musim tanam Desember mendatang. Petani kini masih berkutat dengan pembersihan lahan, pencabutan tanaman yang rusak, hingga pengeringan area tanam.
Di tengah situasi sulit itu, harga cabai merah justru mengalami penurunan di tingkat petani. Jika dua minggu lalu harga masih berada pada kisaran Rp70 ribu per kilogram, kini harga turun menjadi Rp56 ribu per kilogram.
"Minggu lalu masih Rp65 ribu sampai Rp68 ribu, sekarang sudah turun jadi Rp56 ribu per kilo," ungkap Relly.
Petani berharap kondisi cuaca segera membaik agar produksi kembali normal dan harga stabil, sehingga kerugian tidak semakin meluas. (dtc)
Editor : Editor Satu