Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Petani Food Estate Humbahas Sulit Dapat Harga Layak, Ubi Jepang Anjlok Jadi Rp4.000 per Kg

Editor Satu • Jumat, 17 Oktober 2025 | 12:20 WIB
Petani di kawasan food estate Humbang Hasundutan masih kesulitan mendapat harga layak untuk hasil panen seperti cabai, kol, dan ubi jepang.
Petani di kawasan food estate Humbang Hasundutan masih kesulitan mendapat harga layak untuk hasil panen seperti cabai, kol, dan ubi jepang.

Lima tahun berjalan, proyek food estate di Humbang Hasundutan belum memberi keuntungan bagi petani. Harga panen anjlok hingga tak menutup biaya tanam. 

HUMBAHAS, METRODAILY – Setelah lima tahun berjalan, program food estate di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, belum mampu menghadirkan keuntungan bagi petani setempat.

Harga hasil panen yang rendah membuat para petani justru mengalami kerugian.

Salah seorang petani peserta program food estate, Sinaga, mengaku hasil panen di kawasan tersebut belum memberikan hasil ekonomi yang layak.

“Bertani di sini malah besar pasak daripada tiang,” ungkapnya, Rabu (15/10/2025).

Sinaga mencontohkan, harga komoditas ubi jepang yang pada masa tanam mencapai sekitar Rp12.000 per kilogram, anjlok menjadi hanya Rp4.000 hingga Rp6.000 per kilogram saat panen.

Situasi serupa dialami untuk komoditas lain seperti cabai, kol, bawang, hingga kopi.

“Ini terkait pemasaran barang. Harga yang dibeli penampung masih rendah, jauh dari harapan petani,” keluhnya.

Kondisi itu, lanjut Sinaga, diperparah dengan belum adanya ekosistem pertanian hilir yang bisa menyerap hasil panen secara layak.

Ia menilai pemerintah belum menyediakan sistem yang berpihak pada petani, baik dalam bentuk harga acuan penjualan maupun mekanisme distribusi komoditas yang jelas.

“Modal jadi persoalan utama. Kami berharap harga barang panen bisa dihargai atau ditampung secara sesuai,” ujarnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan, masih banyak lahan tidur di kawasan food estate Desa Ria Ria, Kecamatan Pollung, Humbahas.

Baca Juga: Casemiro Bisa Bertahan di Manchester United, Asal Rela Gajinya Dipotong

Meski begitu, sebagian petani tetap berusaha menanam berbagai komoditas, walau hasilnya belum mampu menutupi biaya operasional dari masa tanam hingga panen.

Di sisi lain, penampung dan tengkulak kerap menjadi penentu harga karena minimnya akses pasar langsung bagi petani.

Tak sedikit hasil panen yang tidak terserap pasar akhirnya terbuang atau dibagikan ke warga sekitar.

Selama lima tahun berjalan, para petani mengaku belum pernah mendapat pendampingan intensif dari penyuluh pertanian atau lembaga teknis pemerintah.

Sebagian besar keterampilan bertani diperoleh secara swadaya dari pengalaman dan diskusi antarkelompok tani.

Para petani berharap pemerintah segera menghadirkan solusi konkret soal harga jual hasil panen dan pendampingan profesional untuk meningkatkan produktivitas serta daya saing pertanian di kawasan food estate Humbahas.

“Harapan kami sederhana, harga hasil panen bisa untung supaya tidak lagi besar pasak daripada tiang,” kata Sinaga menutup. (net)

Editor : Editor Satu
#Food Estate Humbahas #harga hasil panen anjlok #Petani Food Estate