Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Harga Kopi Arabika Mandailing Catat Rekor Tertinggi, Sentuh Rp42.000 per Kilogram

Editor Satu • Rabu, 15 Oktober 2025 | 16:08 WIB
Petani menunjukkan biji kopi arabika Mandailing yang mencatat harga tertinggi Rp42.000 per kilogram di Mandailing Natal.
Petani menunjukkan biji kopi arabika Mandailing yang mencatat harga tertinggi Rp42.000 per kilogram di Mandailing Natal.

MADINA, METRODAILY – Harga kopi arabika Mandailing kembali mencetak rekor baru. Di wilayah Mandailing Natal (Madina), harga gabah kopi arabika basah kini menembus Rp42.000 per kilogram, tertinggi sepanjang sejarah.

Kenaikan harga ini diumumkan oleh Koperasi Serba Usaha (KSU) Kopi Mandailing Jaya di Kecamatan Ulu Pungkut, yang menyebutkan bahwa nilai jual tergantung pada kualitas dan kadar air gabah yang dibawa oleh petani.

“Harga Rp42.000 per kilogram ini adalah yang tertinggi sepanjang masa. Tapi bisa lebih tinggi lagi tergantung kualitas dan kadar airnya,” ujar Ketua KSU Kopi Mandailing Jaya, Syafruddin Lubis, Minggu (13/10).

Syafruddin mengatakan, lonjakan harga ini menjadi kabar baik bagi petani kopi di Mandailing Natal. Menurutnya, permintaan kopi arabika Mandailing terus meningkat, baik dari pasar domestik maupun luar negeri.

Selain faktor permintaan, Syafruddin menyebut meningkatnya kesadaran pasar terhadap identitas geografis kopi arabika Mandailing turut mendorong kenaikan harga.

Ia menegaskan bahwa kopi Mandailing bukan sekadar varietas, melainkan mencerminkan identitas geografis dan budaya masyarakat Mandailing.

“Kopi Mandailing adalah produk dengan keterikatan geografis, bukan varietas. Ini penting agar pembeli memahami keterbatasan kuantitas dan keistimewaannya,” jelasnya.

Meski permintaan dari luar negeri tinggi, KSU Kopi Mandailing Jaya mengaku belum memiliki kontrak ekspor langsung. Sejauh ini, pengiriman kopi ke luar negeri dilakukan melalui jaringan koperasi lain.

“Kami sudah beberapa kali mengirim ke luar negeri, tapi belum atas nama koperasi secara langsung. Kuantitas kopi Mandailing yang terbatas menjadi tantangan,” ujarnya.

Untuk menjaga kualitas dan stabilitas harga, koperasi terus melakukan pendampingan teknis kepada petani, mulai dari proses budidaya hingga pasca-panen.

“Kami mendampingi petani agar kualitas meningkat. Kopi yang baik akan membuka akses pasar lebih luas dan meningkatkan pendapatan mereka,” tambah Syafruddin.

Terkait program nasional FOLUR (Food Systems, Land Use, and Restoration), Syafruddin berharap implementasinya segera berjalan di Madina, khususnya untuk sektor kopi.

“Saya pernah menjadi pembicara di forum FOLUR di Jakarta, tapi sejauh ini belum ada dampak langsung di lapangan. Kami berharap ada percepatan implementasi agar produksi kopi arabika Mandailing meningkat,” katanya.

Syafruddin optimistis tren kenaikan harga akan terus berlanjut, didorong oleh kesadaran global terhadap asal-usul kopi dan prinsip keberlanjutan.

“Harga kopi kalau sudah naik jarang turun. Ini peluang besar bagi kopi Mandailing yang otentik,” tegasnya.

Ia bahkan mengutip pernyataan ahli kopi dunia, Williem Ukers, yang menyebut kopi Mandailing sebagai salah satu kopi terbaik di dunia.

“Selama ini banyak kopi berlabel Mandailing beredar di pasar global, padahal tidak berasal dari tanah Mandailing. Ini peluang besar memperkuat posisi kopi asli Mandailing di pasar dunia,” tutupnya. (Net)

Editor : Editor Satu
#kopi arabika #kopi mandailing