Kementan Dukung Pengembangan 1.000 Hektare Kopi dan Kakao di Samosir
Editor Satu• Jumat, 10 Oktober 2025 | 15:40 WIB
Bupati Samosir Vandiko Timotius Gultom saat audiensi dengan Plt Dirjen Perkebunan Kementan RI Abdul Roni Angkat di Jakarta.
SAMOSIR, METRODAILY – Kabar menggembirakan datang bagi petani di Kabupaten Samosir. Upaya Bupati Samosir Vandiko Timotius Gultom memperjuangkan pengembangan sektor perkebunan akhirnya membuahkan hasil besar.
Kementerian Pertanian (Kementan) RI menyetujui bantuan pengembangan 1.000 hektare lahan kopi dan kakao untuk tahun anggaran 2026.
Komitmen itu diperoleh setelah audiensi Bupati Vandiko dengan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan Kementan RI, Abdul Roni Angkat, di Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Vandiko memaparkan potensi dan tantangan sektor perkebunan di Samosir yang didominasi oleh komoditi kopi, kakao, dan kemiri.
Ia juga menyoroti pencapaian penting daerahnya yang telah memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis (IG) Andaliman Pulo Samosir serta tengah memproses sertifikasi varietas lokal Kopi Arabika Typica Samosir.
“Kami ingin Samosir tidak hanya dikenal karena pariwisatanya, tetapi juga sebagai penghasil kopi dan kakao unggulan yang berdaya saing,” ujar Vandiko.
Data Pemkab Samosir mencatat, luas lahan kopi saat ini mencapai 5.810 hektare, namun sekitar 275 hektare di antaranya merupakan Tanaman Tidak Menghasilkan (TTM) akibat serangan penyakit.
Sejak 2022, pemerintah daerah telah melakukan program peremajaan dan perluasan tanam dengan dukungan alokasi APBN untuk 100 hektare peremajaan dan 200 hektare perluasan di tahun 2025.
Dalam audiensi itu, Vandiko juga mengajukan proposal pengembangan kopi dan kakao serta program hilirisasi kemiri dan nira guna meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan masyarakat.
Menanggapi hal itu, Abdul Roni Angkat menyambut baik langkah Pemkab Samosir dan mendorong agar fokus diarahkan pada komoditi kopi dan penguatan hilirisasi.
“Kementan siap mendukung penuh. Kita harapkan Samosir bisa menjadi contoh daerah dengan kawasan perkebunan berkelanjutan seluas 7.000 hektare,” kata Abdul Roni.
Program pengembangan kopi dan kakao ini diharapkan menjadi penggerak ekonomi baru di Samosir, sekaligus memperkuat posisi kabupaten tersebut sebagai sentra kopi unggulan Sumatera Utara. (net)