SIANTAR, METRODAILY – Kota Pematangsiantar mencatat inflasi sebesar 0,47 persen (mtm) pada September 2025.
Secara tahunan, inflasi tercatat 4,51 persen (ytd) dan 5,84 persen (yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan periode Agustus 2025 yang mencapai 1,21 persen (mtm).
Sebagai perbandingan, inflasi Sumatera Utara pada bulan yang sama mencapai 0,65 persen (mtm) dengan 3,60 persen (ytd) dan 5,32 persen (yoy).
Sementara inflasi nasional tercatat lebih rendah, yakni 0,21 persen (mtm) dengan 1,82 persen (ytd) dan 2,65 persen (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, menyebut inflasi Siantar dipengaruhi kenaikan harga cabai merah (0,50 persen), emas perhiasan (0,09 persen), dan cabai hijau (0,07 persen).
“Pada bulan September ini telah melewati periode waktu panen, khususnya di wilayah sentra produksi seperti Simalungun, Karo, dan Batubara. Kombinasi faktor cuaca, biaya produksi, dan ketidakseimbangan pasokan-permintaan menjadi pemicu utama inflasi,” kata Ahmadi, Kamis (2/10/2025).
Sementara itu, komoditas yang memberi andil deflasi adalah bawang merah (-0,20 persen), beras (-0,12 persen), dan buncis (-0,03 persen).
Untuk menekan inflasi, BI Pematangsiantar bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menggelar Pasar Murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM) di wilayah kerja yang dikenal dengan akronim SISI BATAS LABUHAN (Siantar, Simalungun, Batubara, Tanjungbalai, Asahan, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu, dan Labuhanbatu Selatan).
“Di seluruh wilayah SISI BATAS LABUHAN, sudah dilaksanakan Pasar Murah dan GPM sebanyak 65 titik. Ini solusi jangka pendek menjaga harga tetap terkendali,” jelas Ahmadi.
Selain itu, BI juga mendorong pemanfaatan QRIS dalam transaksi di pasar murah dengan memberikan suvenir berupa bawang merah dan cabai merah.
Upaya jangka menengah dilakukan melalui kerja sama antar daerah (KAD) untuk menjaga pasokan pangan.
Ahmadi menambahkan, program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) juga terus digalakkan. “Pada 15 September lalu, kami memantau progres tanaman hortikultura seperti tomat, cabai merah, terong, dan pakcoy oleh kelompok wanita tani,” ungkapnya.
Ke depan, BI memperkirakan tekanan inflasi di Siantar menurun pada Oktober 2025 seiring membaiknya curah hujan dan masuknya pasokan sayuran dari Jawa.
“Dengan panen yang meningkat, harga diprediksi lebih terkendali,” pungkas Ahmadi. (Awa)
Editor : Editor Satu