Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Harga Tembus Rp260 Ribu/Kg, DPRD Toba Dorong Budidaya Andaliman

Editor Satu • Selasa, 9 September 2025 | 12:50 WIB

Tanaman andaliman yang harganya tembus Rp260 ribu/kg dinilai DPRD Toba bisa jadi peluang emas meningkatkan ekonomi petani.
Tanaman andaliman yang harganya tembus Rp260 ribu/kg dinilai DPRD Toba bisa jadi peluang emas meningkatkan ekonomi petani.

TOBA, METRODAILY – Tingginya harga andaliman yang tembus Rp260 ribu per kilogram membuka peluang besar bagi peningkatan ekonomi petani di Kabupaten Toba.

Sekretaris Komisi B DPRD Toba, Andi Sibarani, menilai budidaya andaliman harus segera dikembangkan dengan dukungan pelatihan dari Dinas Pertanian (Distan) Toba.

“Untuk memenuhi kebutuhan saat musim trek, perluasan lahan penanaman atau budidaya andaliman sangat penting agar pasokan pasar tetap terpenuhi,” kata Andi, Senin (8/9/2025).

Baca Juga: Guru SD di Madina Ngamuk Saat Rapat, Banting Kursi dan Serang Rekan Guru

Ia mencontohkan, jika ada 100 petani andaliman yang masing-masing menghasilkan 10 kilogram per minggu, maka perputaran ekonomi bisa mencapai Rp2,6 juta per minggu, angka yang dinilai sangat menjanjikan.

Fluktuasi harga andaliman terjadi karena tanaman endemik khas Batak ini tidak selalu berbuah banyak. Stok di pasar sering terbatas, sehingga harga melonjak tinggi.

Kabid Perkebunan Distan Toba, Frisda Napitupulu, mengakui pengembangan andaliman masih menghadapi tantangan. Tanaman ini hanya tumbuh subur di lokasi tertentu, seperti Kecamatan Habinsaran, Nassau, dan Borbor dengan ketinggian 1.000–1.800 mdpl.

Baca Juga: Banting Balita hingga Tewas, Ayah Tiri di Tapsel Terancam 15 Tahun Penjara

Menurut Frisda, dibutuhkan penelitian ilmiah untuk menciptakan varietas baru agar budidaya andaliman bisa meluas. Namun, keterbatasan anggaran dan tenaga ahli masih menjadi kendala.

“Sebelumnya kementerian sudah melakukan survei sebelum pandemi Covid-19, namun program penelitian terhenti karena dialihkan untuk penanganan pandemi. Kami berharap ke depan budidaya andaliman dapat dikembangkan lebih luas untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” jelasnya. (net)

Editor : Editor Satu
#andaliman