SIANTAR, METRODAILY – Kota Pematangsiantar mencatat inflasi sebesar 1,21% (mtm) pada Agustus 2025. Secara kumulatif, inflasi mencapai 4,02% (ytd) dan 5,44% (yoy). Angka ini lebih tinggi dibanding Juli 2025 yang tercatat 0,79% (mtm).
Sementara itu, inflasi Sumatera Utara berada di level 1,37% (mtm); 2,93% (ytd); dan 4,42% (yoy). Secara nasional, inflasi justru mengalami deflasi -0,08% (mtm) dengan inflasi kumulatif 1,60% (ytd) dan 2,31% (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, melalui Unit Data Statistik dan Kehumasan (UDSK), menyebut tekanan inflasi Siantar masih cukup tinggi.
“Komoditas dengan andil inflasi bulanan terbesar yaitu bawang merah 0,19%, cabai merah 0,10%, dan daging ayam ras 0,08%. Sementara jeruk, tomat, dan sawi hijau justru menyumbang deflasi,” jelasnya.
Inflasi ini terutama dipicu kenaikan harga sejumlah komoditas pangan strategis, khususnya hortikultura. Kondisi kemarau di sentra produksi seperti Simalungun, Karo, dan Batubara menyebabkan pasokan terbatas.
Untuk menekan laju inflasi, Pemkot Pematangsiantar bersama TPID dan BI telah melaksanakan berbagai langkah, di antaranya:
- Pasar Murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM), termasuk kolaborasi dengan Tim SP melalui promo transaksi QRIS dengan souvenir bawang dan cabai.
- Pekarangan Pangan Lestari (P2L), dengan pelatihan kepada 10 kelompok wanita tani (KWT) serta lomba penanaman tomat, cabai, terong, dan pakcoy.
- High Level Meeting (HLM) TPID bersama Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi pada 29 Agustus 2025, yang menghasilkan komitmen rutin Pasar Murah, penelusuran KAD, hingga pembentukan warung tekan inflasi di sekitar pasar tradisional.
Ke depan, tekanan inflasi diperkirakan menurun pada September 2025. Pasokan diprediksi lebih terkendali seiring curah hujan yang kembali normal di Sumut dan masuknya suplai dari Jawa. (rel)
Editor : Editor Satu