Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Taput Punya 1,9 Juta Pohon Kemenyan, Luhut: Harus Keluar dari Zona Ekspor Mentah

Editor Satu • Selasa, 8 Juli 2025 | 13:10 WIB

Bupati Taput Jonius Taripar Hutabarat paparkan potensi 1,9 juta pohon kemenyan kepada Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan dalam rapat virtual, Senin (7/7/2025).
Bupati Taput Jonius Taripar Hutabarat paparkan potensi 1,9 juta pohon kemenyan kepada Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan dalam rapat virtual, Senin (7/7/2025).

TAPUT, METRODAILY – Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) memiliki potensi luar biasa dengan 1,9 juta batang pohon kemenyan, namun sayangnya, hasil produksinya dinilai masih jauh dari maksimal.

Fakta mengejutkan ini disampaikan langsung oleh Bupati Taput, Jonius Taripar Hutabarat, dalam rapat virtual bersama Ketua Dewan Energi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, Senin (7/7/2025).

“Kemenyan di Taput saat ini hanya mampu menghasilkan 300 gram per batang per tahun, itu pun hanya panen sekali setahun. Kalau ada dukungan teknologi dan riset, target kami bisa naik dua kali lipat menjadi 500–700 gram per batang, bahkan bisa panen dua kali setahun,” ujar Jonius.

Baca Juga: Wow! Danau Toba Bakal Punya Wisata Pantai Sepanjang 22 KM, Bisa Saingi Bali?

Ia juga menyoroti perlunya bibit unggul dan metode penyadapan yang lebih modern agar komoditas kemenyan dapat lebih kompetitif secara global.

Menanggapi paparan itu, Luhut Binsar Pandjaitan memberikan arahan keras dan tegas. Ia menekankan bahwa Indonesia tidak boleh terus-terusan menjadi eksportir bahan mentah, apalagi untuk komoditas lokal bernilai tinggi seperti kemenyan.

“Kemenyan ini kekayaan kita. Harus dikelola secara ilmiah dan berkelanjutan. Kalau perlu, gandeng lembaga internasional! Saya minta hasil konkret, bukan cuma diskusi,” tegas Luhut.

Baca Juga: Isu Kapolres Ditangkap KPK Bikin Heboh, Begini Klarifikasi Resmi Juru Bicara KPK

Luhut mendorong agar bibit unggul segera dikembangkan lewat kultur jaringan atau pemurnian genetik, agar produksi meningkat dan kesejahteraan petani pun terdongkrak.

Selain soal kemenyan, rapat ini juga membahas rencana pengolahan limbah eceng gondok menjadi pupuk organik. Inovasi ini dinilai ramah lingkungan dan bisa membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar Danau Toba.

Program tersebut diharapkan tak hanya menambah nilai guna dari limbah yang selama ini dianggap hama, tapi juga menjadi solusi ekologis jangka panjang di wilayah perairan.

“Ini saatnya Taput naik kelas! Kita tidak hanya punya kekayaan alam, tapi juga semangat inovasi,” tutup Jonius. (net)

Editor : Editor Satu
#kemenyan