Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Didukung PTAR, Kelompok Sukakeswan Batang Toru Sulap Kotoran Sapi Jadi Biogas

Editor Satu • Minggu, 18 Mei 2025 | 12:12 WIB
Manager Community Development Agincourt Resources, Rohani Simbolon, saat meresmikan instalasi biogas terintegrasi di Desa Sumuran, Batang Toru, Sabtu (10/5/2025).
Manager Community Development Agincourt Resources, Rohani Simbolon, saat meresmikan instalasi biogas terintegrasi di Desa Sumuran, Batang Toru, Sabtu (10/5/2025).

METRODAILY - Siapa sangka, kotoran sapi yang dulu dianggap limbah kini bisa jadi energi bersih dan pupuk alami.

Inovasi ini hadir dari Batang Toru, Tapanuli Selatan, berkat kerja sama antara Kelompok Sukarelawan Kesehatan Hewan (Sukakeswan) dan PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe.

Mereka sukses mengolah limbah ternak menjadi biogas untuk keperluan memasak dan pupuk organik untuk pertanian. Program ini menjadi bukti nyata bahwa pendekatan ramah lingkungan bisa berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat.

“Dulunya kotoran ternak dianggap cuma limbah. Sekarang, bersama masyarakat, kami mengolahnya jadi dua manfaat utama: biogas dan pupuk organik,” ungkap Rohani Simbolon, Manager Community Development PTAR, saat meresmikan instalasi biogas terintegrasi di Desa Sumuran, Sabtu (10/5/2025).

Tiga unit instalasi biogas kini berdiri di tiga lokasi di Kecamatan Batang Toru: Desa Sumuran, Kelurahan Aek Pining, dan Kelurahan WEK II. Ketiganya memanfaatkan limbah dari sekitar 120 ekor sapi untuk menghasilkan energi bersih.

Tak hanya mengurangi ketergantungan pada LPG, biogas ini juga mampu menghemat sekitar 87 tabung LPG 3 kilogram per tahun dan menekan emisi gas rumah kaca hingga ±90 ton CO2-eq per tahun — setara dengan emisi 40 mobil!

Rohani menjelaskan, program ini merupakan bagian dari sistem peternakan terintegrasi yang dikembangkan PTAR. Bukan cuma menyediakan kandang yang layak, tapi juga pelatihan perawatan hewan, inseminasi buatan, hingga cara mengelola limbah ternak secara optimal.

Ketua Kelompok Sukakeswan, Sukiman, menyambut baik program ini. Menurutnya, sejak menjadi mitra binaan PTAR, cara beternak mereka makin berkembang.

“Dulu, kotoran sapi kami buang ke kebun sawit. Sekarang bisa jadi gas untuk masak dan pupuk buat tanaman. Sangat membantu kami,” katanya.

Apresiasi juga datang dari Pemerintah Daerah. Yeni Lubis, Kasi Data dan Informasi Dinas Pertanian Tapanuli Selatan, menyebut langkah ini sebagai lompatan besar menuju konsep pertanian terpadu.

“Zero waste bukan cuma mimpi. Limbah ternak yang tadinya jadi polusi, sekarang bisa dimanfaatkan jadi energi. Kalau terus dikembangkan, kita bisa punya kawasan peternakan yang bersih, sehat, dan produktif,” ujarnya.

Yeni menegaskan, Dinas Pertanian siap mendukung program inovatif semacam ini agar dampaknya makin luas dan berkelanjutan. (Rel)

Editor : Editor Satu
#Tambang Emas Martabe #PTAR #Agincourt Resources