SIBOLGA, METRODAILY– Nelayan tradisional di Kota Sibolga kembali menyerukan perlindungan terhadap ruang tangkap mereka yang kian terancam.
Mereka meminta aparat penegak hukum maritim segera menertibkan kapal pukat ikan (PI) yang diduga kerap merusak jaring milik nelayan kecil saat melaut.
Sabaruddin, Ketua Asosiasi Panjaring Salam Basamo Sibolga, menyebut puluhan jaring milik anggotanya sudah rusak akibat ulah kapal-kapal PI yang beroperasi terlalu dekat dari zona tangkap nelayan tradisional.
“Sudah lebih dari 50 set jaring kami yang hancur. Kapal pukat itu melintas dan menyeret jaring kami, terakhir kejadian tanggal 16 Maret di perairan Labuhan Runi,” ujar Sabaruddin, Senin (7/4/2025).
Ia meminta aparat seperti Danlanal, Satpolair, dan PSDKP turun langsung ke laut untuk menertibkan kapal-kapal besar yang dianggap melanggar aturan.
“Kalau dibiarkan, ini bisa memicu konflik di laut. Kami tidak ingin bertindak sendiri, tapi tolong jangan tunggu sampai ada gesekan,” ujarnya.
Menurutnya, para nelayan kecil sering tidak berdaya menghadapi kapal-kapal besar, apalagi ketika harus mengejar mereka dalam kondisi cuaca buruk dengan perahu yang jauh lebih kecil.
Kerusakan jaring bukan sekadar kerugian material, melainkan juga berdampak langsung pada penghasilan mereka yang hanya mengandalkan hasil laut setiap harinya.
“Kami hanya ingin bekerja dengan tenang dan aman. Kami butuh kepastian dan perlindungan, bukan terus-menerus dirugikan,” tegas Sabaruddin. (Rri)
Editor : Editor Satu