JAKARTA, METRODAILY – Pemerintah akan menggelar operasi pasar secara masif di 4.000 titik di seluruh Indonesia mulai 24 Februari 2025.
Langkah ini bertujuan untuk menekan lonjakan harga pangan yang kerap terjadi menjelang Ramadan dan Lebaran.
Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi, mengatakan bahwa konsumsi pangan masyarakat meningkat sekitar 20-30% selama bulan puasa.
Komoditas seperti cabai dan telur diprediksi akan mengalami kenaikan harga karena meningkatnya permintaan serta faktor cuaca.
"Pasar murah dan operasi pasar ini disiapkan di berbagai lokasi, termasuk kantor pos di 215 titik serta di seluruh 514 kabupaten/kota. Tujuannya agar harga tetap stabil dan tidak memberatkan masyarakat," ujar Arief dalam keterangan resminya, Minggu (23/2).
Arief menegaskan bahwa operasi pasar akan memastikan harga pangan tetap terjangkau, tetapi tidak merugikan petani dan peternak.
"Prinsipnya, harga di pasar akan berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) atau Harga Acuan Penjualan (HAP), namun tetap menjaga keseimbangan agar petani dan peternak tidak dirugikan," jelasnya.
Untuk mengamankan pasokan, pemerintah dan pihak swasta telah menyiapkan berbagai komoditas strategis. Beberapa di antaranya:
- Minyak goreng MinyaKita: 70 ribu kiloliter (Bulog 50 ribu KL, ID FOOD 20 ribu KL).
- Gula konsumsi: 50 ribu ton (PTPN 43 ribu ton, ID FOOD 7 ribu ton).
- Bawang putih: 20 ribu ton, didistribusikan oleh 21 pelaku usaha.
- Daging kerbau beku: 19 ribu ton (PT Berdikari 10 ribu ton, PT PPI 9 ribu ton).
- Beras: 100 ribu ton yang akan disalurkan oleh Bulog.
Secara keseluruhan, total pasokan yang akan digelontorkan mencapai 189 ribu ton, ditambah MinyaKita sebanyak 70 ribu kiloliter.
Antisipasi Lonjakan Harga
Selain operasi pasar, pemerintah juga terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan kelancaran distribusi dan pasokan pangan.
Langkah ini diharapkan dapat menekan potensi spekulasi harga yang sering terjadi menjelang Ramadan.
"Kami ingin memastikan masyarakat bisa menjalani ibadah puasa dengan tenang, tanpa terbebani oleh lonjakan harga pangan yang tidak wajar," pungkas Arief. (dtc)
Editor : Editor Satu