SIBOLGA, METRODAILY – Sopir angkutan umum di Sibolga dan Tapanuli Tengah menghadapi tekanan ekonomi yang kian berat akibat sepinya penumpang dan meningkatnya penggunaan sepeda motor.
Perubahan pola transportasi masyarakat ini membuat pendapatan mereka anjlok, bahkan nyaris tidak cukup untuk menutupi setoran harian.
Supriyadi, sopir angkutan umum jurusan Sibolga-Hutabalang, mengungkapkan bahwa kini masyarakat lebih memilih kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, untuk mobilitas sehari-hari.
"Setiap trip paling hanya dapat empat sampai lima penumpang. Pendapatan yang lumayan cuma saat jam antar-jemput anak sekolah," ujar Supriyadi, Selasa (22/1/2025).
Pendapatan harian yang sebelumnya bisa mencapai Rp50.000–Rp60.000 kini terjun bebas menjadi sekitar Rp30.000. "Kalau minyak diisi full dan setoran harus penuh, malah rugi. Jadi minyak sering dikorting biar bisa dibagi," ungkapnya.
Kondisi semakin buruk saat sekolah libur, karena pelajar adalah penumpang utama angkutan umum. Para sopir kini terjepit antara kewajiban menyetor kepada pemilik kendaraan dan kebutuhan operasional, sementara persaingan dengan sepeda motor kian tajam.
Supriyadi bersama para sopir lainnya mendesak pemerintah untuk turun tangan. Mereka meminta solusi konkret, seperti subsidi bahan bakar atau bantuan khusus yang dapat membantu mereka bertahan.
"Kami sangat berharap pemerintah peduli. Jangan sampai kami ditinggalkan di tengah situasi sulit seperti ini," tambahnya.
Fenomena ini menunjukkan tantangan serius bagi keberlangsungan transportasi umum di wilayah Sibolga, sekaligus menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk segera bertindak menyelamatkan sektor ini.
Jika dibiarkan, masa depan angkutan umum tradisional kian suram. (Rri)
Editor : Admin Metro Daily