METRODAILY - PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU), perusahaan bubur kertas berbasis di Medan, Sumatera Utara, kembali menghentikan operasinya.
Penghentian sementara yang dimulai pada Minggu, 29 Desember 2024, ini disebabkan oleh kekurangan bahan baku kayu akibat klaim tanah oleh masyarakat di wilayah operasional perusahaan.
“Penghentian sementara ini bukan kegiatan rutin dan berdampak signifikan pada hasil produksi serta penghasilan perusahaan,” ujar Direksi INRU dalam keterbukaan informasi di situs Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 1 Januari 2025.
Kekurangan bahan baku ini tidak hanya merugikan perusahaan secara finansial tetapi juga memengaruhi ekonomi lokal di sekitar wilayah operasional, terutama di Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba. Aktivitas perusahaan yang sering menjadi sumber penghasilan utama warga terpaksa terhenti.
Hal serupa pernah terjadi pada 17 Oktober hingga 1 November 2024. Kala itu, operasional perusahaan juga dihentikan sementara karena alasan yang sama, menambah panjang daftar tantangan yang dihadapi INRU dalam mempertahankan keberlangsungan bisnisnya.
Penghentian operasi ini memperlihatkan akar permasalahan yang lebih dalam, yakni konflik lahan yang berlarut-larut antara PT Toba Pulp Lestari dan masyarakat adat di sekitar wilayah konsesinya.
Salah satu konflik mencuat pada Juli 2024, ketika lima warga adat Sihaporas, Kabupaten Simalungun, dikabarkan diculik dalam insiden yang diduga terkait perselisihan lahan.
Konflik ini berakar pada klaim warga bahwa lahan adat mereka, yang telah dikelola secara turun-temurun sejak 1800-an, diambil alih oleh perusahaan.
Bentrokan juga pernah terjadi pada 2022, ketika warga Sihaporas memblokir jalan masuk ke wilayah yang mereka klaim sebagai tanah adat. Aksi itu berujung bentrok dengan aparat keamanan, memperburuk hubungan antara perusahaan dan masyarakat setempat.
Secara finansial, PT Toba Pulp Lestari menghadapi tekanan yang signifikan. Dalam laporan kuartal II 2024, perusahaan mencatat rugi sebesar Rp 1,443 miliar, meski jumlah tersebut lebih baik dibandingkan kerugian Rp 16,001 miliar pada 2023.
Penurunan aset juga terlihat, dari Rp 480,8 miliar pada kuartal II 2023 menjadi Rp 479,5 miliar pada periode yang sama tahun berikutnya.
Penghentian sementara produksi ini menyoroti tantangan besar yang dihadapi perusahaan: keterbatasan bahan baku, konflik sosial, dan tekanan finansial.
Jika tidak ada solusi menyeluruh, baik dalam penyediaan bahan baku maupun penyelesaian konflik lahan, masa depan operasional PT Toba Pulp Lestari mungkin berada dalam ancaman serius.
Perusahaan kini dihadapkan pada tugas berat untuk membangun kembali hubungan dengan masyarakat adat, sambil mencari solusi yang dapat menjamin kelangsungan operasional tanpa mengorbankan hak-hak warga lokal. (net)
Editor : Editor Satu