SIANTAR, METRODAILY - Di bulan Agustus 2024, inflasi Kota Pematangsiantar masih terkendali, yakni 0,10 persen (month to month/mtm). Angka ini lebih tinggi dari capaian nasional yang tercatat mengalami deflasi sebesar -0,03 persen (mtm).
Sejalan dengan peningkatan inflasi bulanan, inflasi tahunan di Kota Pematangsiantar juga mengalami peningkatan. Kota Pematangsiantar tercatat mengalami inflasi tahunan sebesar 2,54 persen (year on year).
Meskipun demikian, capaian inflasi tahunan tersebut masih berada dalam target inflasi nasional, yaitu 2,5 persen-1 persen. Kondisi tersebut menandakan daya beli masyarakat di Kota Pematangsiantar masih terjaga.
Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematangsiantar Muqorobin, Selasa (3/9) sore, secara umum inflasi yang terjadi di Kota Pematangsiantar disebabkan kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, tembakau, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.
"Namun inflasi yang terjadi pada kelompok tersebut masih cukup terkendali," sebut Muqorobin.
Masih kata Muqorobin, komoditas yang menyebabkan terjadinya peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) yaitu kenaikan harga beberapa komoditas, seperti sigaret kretek mesin, ikan dencis, emas perhiasan, cabai rawit, sawi hijau, andaliman, serta beras.
"Inflasi yang terjadi pada sigaret kretek mesin disebabkan tingginya konsumsi produk tersebut di wilayah Kota Pematangsiantar," katanya.
Komoditas yang mengalami kenaikan harga (inflasi) di Kota Pematangsiantar dan masih harus mendapat perhatian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), menurut Muqorobin, yaitu beras yang harganya diperkirakan terus meningkat selama semester ll Tahun 2024.
Lebih lanjut Muqorobin mengatakan, untuk menyikapi harga beras yang diperkirakan terus meningkat, maka seluruh TPID akan terus berkomitmen secara maksimal melakukan pengendalian harga dan pemantauan stok komoditas.
Beberapa hal yang telah dilakukan, lanjutnya, seperti penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), fasilitasi operasi pasar/Gerakan Pasar Murah (GPM), dan fasilitasi Kerjasama Antar Daerah (KAD) yang akan terus didorong guna sebagai upaya pengendalian inflasi di daerah.
"Selain itu, terdapat program Gertak atau Gerakan Tanam Serentak, yang merupakan hasil perumusan strategi pada High Level Meeting (HLM) TPID se-Provinsi Sumatera Utara. Adanya program tersebut diharapkan mampu menjaga level stok komoditas utama sehingga berada pada kondisi yang terjaga dan memenuhi kebutuhan masyarakat," terangnya. (rel)
Editor : Editor Satu