SIANTAR, METRODAILY - Di periode Juni 2024 tingkat inflasi Kota Pematangsiantar menjadi yang terbaik di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), yakni mengalami deflasi -0,55 persen (mtm). Sementara untuk Sumut, deflasi sebesar -0,33 persen (mtm), dan secara nasional mengalami deflasi -0,08 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematangsiantar Muqorobin melalui Unit Data Statistik dan Kehumasan (UDSK), Selasa (2/7) menerangkan tingkat inflasi Kota Pematangsiantar menjadi terbaik pertama di Sumut, dengan deflasi -0,55% (mtm); 2,89% (yoy); dan 1,68% (ytd).
Sementara Kabupaten Labuhanbatu di peringkat terbaik kedua, dengan deflasi -0,91% (mtm); 3,18% (yoy); dan 2,44% (ytd).
Sedangkan di Sumut deflasi -0,33% (mtm); 3,35% (yoy); 1,65% (ytd). dan nasional deflasi -0,08% (mtm); 2,51% (yoy); 1,07% (ytd).
Komoditas dengan andil deflasi terbesar di Kota Pematangsiantar yaitu Daging ayam ras -0,30%; Bawang Merah -0,17%; Tomat -0,16%; Sawi Hijau -0,06%; dan Kangkung -0,04%.
Sedangkan komoditas dengan andil inflasi terbesar di Kota Pematangsiantar yakni Ikan Dencis 0,04%; ?Emas Perhiasan 0,03%; ?Wortel 0,03%; ?Cabai Rawit 0,02%; dan Bakso Siap Santap 0,02%.
Disebutkan, terjadinya deflasi khususnya pada penurunan harga daging ayam ras dan bawang merah disebabkan faktor meningkatnya stok khususnya panen bawang merah.
Di sisi lain, peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) semakin matang dengan mampu mempersiapkan kemungkinan kenaikan harga pada masa libur sekolah dan HBKN Idul Adha dengan mengadakan kegiatan pasar murah, rapat koordinasi dan HLM serta gerakan tanam.
Sementara itu kenaikan harga cabai masih terjadi selama 3 bulan berturut-turut dimana harga berfluktuasi mengikuti kondisi pasokan panen cabai yang semakin berkurang menjelang berakhirnya masa panen. (rel)