Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Jalan Tol Trans Sumatera: Sambung Menyambung Menjadi Satu, Itulah Indonesia

Admin Metro Daily • Kamis, 22 Februari 2024 | 15:56 WIB
Gerbang Tol (GT) Lima Puluh di Jalan Indrapura – Kisaran, Sumatera Utara.
Gerbang Tol (GT) Lima Puluh di Jalan Indrapura – Kisaran, Sumatera Utara.

Meski Indonesia kerap disebut negara maritim, tetapi daratannya cukup panjang dengan bentang mencapai 3.977 mil. Untuk melintasi daratan ini, dibutuhkan jaringan jalan sebagai sarana menyambungkan pergerakan manusia dan barang dari satu daerah ke daerah lainnya. Makin cepat dan lancar pergerakan, makin besar efek multipliernya bagi perekonomian. Jalan tol dinilai efisien mempercepat pergerakan ini.

------------------------------

Dame Ambarita, Medan

-------------------------------

“Luar biasa. Semua menjadi lebih cepat. Akses ke mana-mana lebih mudah. Akses antarkota dan antarprovinsi lebih cepat dan nyaman. Hemat waktu dan aman berkendara,” kata Lydia Veronika, humas sebuah perusahaan perkebunan di Pulau Sumatera, saat bersama-sama menjajal jalan tol dari Medan hingga Kisaran, Sumatera Utara, belum lama ini.

Hal itu diucapkannya merespon pertanyaan apa manfaat yang dirasakan setelah satu dekade menikmati Jalan Tol Trans-Sumatra di Indonesia. Adapun Jalan Tol Trans-Sumatra sepanjang 2.704 km dirancang pemerintah untuk menghubungkan kota-kota di pulau Sumatra, dari Lampung hingga Aceh. Jalan tol kelanjutan dari Jalan Tol Jakarta-Merak ini ditarget akan beroperasi penuh pada 2024.

Jalan tol, kata Lydia lagi, ibarat urat nadi di tubuh manusia. Urat nadi inilah saluran peredaran darah ke seluruh tubuh. Demikian juga jalan tol, adalah kunci kelancaran mobilitas manusia dan barang.

“Jalan Tol Trans Sumatera membuat akses dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatra dan antarlintas Sumatera lebih mudah dan lebih cepat. Seperti lirik sebuah lagu wajib: Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia,” kata Lydia yang mobilitas kerjanya tergolong tinggi ke berbagai provinsi di Pulau Sumatera, menggunakan transportasi darat ini.

Jalan tol juga membuat pengantaran barang lebih cepat. “Sayur di gunung diantar ke penduduk di dekat laut. Ikan di laut diantar ke penduduk di wilayah pegunungan. Adanya jalan tol membuat kualitas sayur-sayuran dan ikan lebih terjaga, karena waktu tempuh lebih cepat,” katanya.

Misalnya, jika dulu Medan-Pekanbaru ditempuh dalam waktu 16 jam, sekarang dengan adanya JTTS hanya butuh 13 jam. Medan-Tebingtinggi yang dulu butuh waktu 2 jam, sekarang bisa 35 menit. Medan Amplas-Besilam yang dulu 3 jam pun tidak dapat dikejar, sekarang via tol bisa 35 menit.

“Kalau jalan tol berlanjut lagi dari Kisaran hingga Rantauprapat, saya kira waktu tempuh Medan-Pekanbaru bisa lebih cepat lagi. Mungkin bisa 6-7 jam? Waktu perjalanan yang dihemat tentu sangat berarti,” katanya.

Selain efisiensi waktu, Lydia menyebut keberadaan jalan tol juga membuat para pengguna jalan lebih aman dan nyaman. Lalu lintas di jalan tol jelas lebih tertib dibanding jalan umum biasa. Tidak banyak kejutan yang mengganggu pengendara.

“Kalau di jalan umum, bisa tiba-tiba muncul sepeda motor. Ada yang berbelok sesukanya, ada yang berkendara tanpa lampu di malam hari. Sungguh bikin sport jantung. Nah, kalau di jalan tol ‘kan sepeda motor dan becak bermotor tidak dibolehkan. Jadi jantung lebih tenanglah. Jalan malam? Aman. Tidak perlu takut diikuti bajing loncat. Ada CCTV juga,” katanya.

Tentang efisiensi biaya antara hemat BBM dengan biaya jalan tol, menurut Lydia, semuanya worth it. “Ada plus minus. Pakai jalan tol memang ada biayanya. Tetapi BBM juga lebih hemat. Bagi orang yang tingkat kesibukannya tinggi, kecepatan dan kenyamanan yang ditawarkan jalan tol itu sangat worth it. Pengendara juga lebih nyaman karena kecepatan stabil di angka 80-100. Ada rest areanya juga,” cetusnya.

Secara pribadi, ia mengaku bangga karena selain memperlancar akses perekonomian, penampilan jalan tol Indonesia juga semakin mengejar tol luar negeri. “Yang saya lihat, perubahan pembangunan infrastruktur jalan saat ini jauuuuh lebih baik dibanding sebelumnya. Dengan mudahnya akses melalui jalan tol, mobilitas lebih tinggi. Saya misalnya, mau cari makan khas Tebingtinggi, ayok… Cuma 35 menit dari Tol Amplas. Mau cari kuliner ke Cemara, ayokkk, cuma 15 menit aja via tol. Pokoknya kalau mau gerak, tidak perlu mikir panjang lagi,” katanya.

Dengan adanya jalan tol trans Sumatera hingga Aceh, Lydia menyebut belakangan ini ia dan keluarganya lebih suka liburan ke Aceh dibanding ke kota buah Berastagi. Padahal, jarak Medan ke Berastagi lebih dekat. “Ke Berastagi macet. Bisa habis waktu berjam-jam hanya di jalan,” itu alasan Lydia.

Untuk itu, ia berharap jalan tol Trans Sumatera dilanjutkan. “Pokoknya jangan sampai tidak dilanjutkan,” katanya seraya tersenyum simpul.

Interchange tol Tebing Tinggi - Indrapura.
Interchange tol Tebing Tinggi - Indrapura.

Senada, Rican Manurung (40), warga Pekanbaru yang menjadi sopir bus Eldivo rute Pematang Siantar-Jambi, mengatakan pembangunan jalan tol adalah pembangunan infrastruktur yang nyata dibutuhkan masyarakat.

Dengan adanya Jalan Tol Trans Sumatera, waktu tempuh lebih cepat. Jika dulu bus komersial atau truk pengangkut barang dari Medan-Jakarta normalnya membutuhkan waktu tempuh 3 hari 2 malam, kini hanya butuh 2 hari 2 malam.

“Medan-Jambi dulu butuh 30 jam. Kalau ada banjir atau kecelakaan, bisa lebih lama lagi. Kini dengan jalan tol, waktu tempuh hanya 24 jam. Bagi kami sopir lintas provinsi, hemat waktu dua jam saja sudah sangat berarti. Bisa dipakai istirahat atau menambah waktu kumpul dengan keluarga,” kata mantan sopir bus PMH yang bekerja sejak tahun 2005 ini.

Tak hanya sopir bus yang nyaman dan senang dengan adanya JTTS. Penumpang bus juga lebih puas via jalan tol. “Orang kantoran bisa kejar waktu. Misal, dari Kota Pematang Siantar berangkat pukul 19.30 WIB, jam 6 pagi sudah tiba di Pekanbaru. Kurang lebih hanya 10 jam. Banyak penumpang kami yang memilih jalan darat setelah ada Jalan Tol Trans Sumatera. Tentara, polisi, pegawai perkebunan, dan orang kantoran lainnya, sekarang bisa pulang menemui keluarga sekali seminggu,” katanya.

Dulu, sebelum ada jalan tol, waktu tempuh Siantar-Pekanbaru kurang lebih 12 jam. Berangkat 19.30 WIB, tiba pukul 07.30 pagi di Pekanbaru. Lewat tol, kini bisa tiba pukul 6 pagi. “Masih sempat istirahat sebelum ngantor,” katanya.

Meski ada biaya tol yang harus dibayar, menurut Rican, para sopir bus tidak merasa rugi. Karena ada penghematan dari segi BBM dan waktu tempuh yang lebih cepat. “Malah kami merasa untung,” katanya seraya tersenyum lebar.

Penumpang bus Eldivo dari Kota Pematang Siantar banyak untuk rute Dumai, Pekanbaru, Jambi, dan Kerinci. Ongkos bus eksekutif PATAS rute Siantar-Pekanbaru saat ini hanya Rp235 ribu. Cocok untuk orang kantoran yang mengejar waktu, pebisnis, karyawan Pertamina, PNS, polisi, tentara.

“Bus eksekutif via jalan tol tidak berhenti di jalan. Bus ekonomi via jalan umum, tidak pakai AC,  hanya Rop185 ribu. Cocok untuk orang kebun dan petani sawit yang tidak dikejar waktu,” katanya.

Seluruh sopir bus Eldivo esekutif, menurutnya, hampir setiap hari memilih lewat tol meski biaya tol bayar sendiri. “Via Tol Kandas (simpang Bangko sampai tol Pekanbaru), waktu tempuhnya bisa hemat 4 jam dibanding jalan umum,” katanya.

Senada dengan Lydia, Rican juga berharap pemerintah membangun jalan tol dari Kisaran hingga Rantauprapat, karena kemacetan sering terjadi di Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara (Labura) gara-gara banjir. Selain kerap banjir, jalan umum mulai dari Kisaran hingga Bagan Batu juga sering terjadi lakalantas atau truk rusak. Ini sering sekali menyebabkan kemacetan panjang.

Rican Manurung, warga Pekanbaru yang menjadi sopir bus Eldivo rute Pematang Siantar-Jambi, saat ditemui di Kota Pematangsiantar.
Rican Manurung, warga Pekanbaru yang menjadi sopir bus Eldivo rute Pematang Siantar-Jambi, saat ditemui di Kota Pematangsiantar.

Pujian juga datang dari R. Simbolon (45), seorang toke komoditi pertanian. Ia menyebut, pengangkutan komoditi pertanian lintas provinsi via Jalan Tol Trans Sumatera, membuat barang lebih cepat tiba di tujuan.

Biasanya ia mengirim kentang, kol, sayur putih, jeruk, tomat, paprika, jahe gajah, jahe merah, kunyit, terong boga, dll sesuai pesanan yang masuk. Berangkat dari Berastagi Tanah Karo atau Saribudolok, Simalungun, tujuan Pulau Bangka. Sebelum ada JTTS, kalau misalnya truk kontainer bermuatan 7,5 - 8 ton atau truk HDL bermuatan 10 ton berangkat Senin pukul 23.00 WIB, maka mobil tiba di Pelabuhan Tanjung Api Palembang pada Kamis subuh, untuk menyebrang ke Pulau Bangka.

“Sesudah ada Jalan Tol Trans Sumatera, kalau misalnya truk berangkat Senin pukul 23.00 WIB, pada Rabu malam sudah tiba di Pelabuhan Tanjung Api Palembang. Kalau ada kapal malam yang berangkat malam, bisa langsung menyebrang ke Pulau Bangka. Komoditi pertanian masih segar dan waktu tempuh lebih cepat,” katanya.

Selain hemat waktu, sopirnya juga mengaku lebih nyaman berkendara karena jalan tol lebih mulus dibanding jalan umum. Kemacetan bisa dihindari, sehingga sopir tidak capek mengerem dan menggas.

“Truk yang kami gunakan tidak berpendingin. Karena itu, waktu tempuh yang dihemat hingga setengah hari ini sangat berarti mempertahankan kesegaran barang. Puji Tuhan, pengiriman komoditi pertanian sejak tahun 2016 hingga sekarang lancar via Jalan Tol Trans Sumatera. Ancaman keamanan di jalan tol juga minim,” pujinya.

Truk pengangkut milik R Simbolon, sedang menyusun sayur kol untuk pengiriman ke Pulau Bangka, dari Berastagi. Pujian juga datang dari R. Simbolon (45), seorang toke komoditi pertanian. Ia menyebut,
Truk pengangkut milik R Simbolon, sedang menyusun sayur kol untuk pengiriman ke Pulau Bangka, dari Berastagi. Pujian juga datang dari R. Simbolon (45), seorang toke komoditi pertanian. Ia menyebut,

Seorang konsultan bisnis, Cahyo Pramono, menjelaskan dalam teori Pergerakan Penduduk, pergerakan terjadi karena adanya proses pemenuhan kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan merupakan kegiatan yang biasanya dilakukan setiap hari. Misalnya pemenuhan akan ekonomi, pendidikan, hiburan, sosial, budaya, dan sebagainya.

“Sebagai makluk individu dan sosial, manusia mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, baik kebutuhan jasmani maupun rohani. Kebutuhan tersebut menjadi alasan bagi manusia melakukan pergerakan,” kata Cahyo.

Pergerakan manusia dan barang, lanjutnya, mempengaruhi kecepatan pembangunan di suatu negara. Semakin lancar suatu pergerakan, semakin cepat pergerakan perekonomian. Semakin macet, pertumbuhan semakin lambat.

“Karena manusia membutuhkan barang, maka akan ada trading dan ada investasi. Pembangunan jalan tol membuat jangkauan konektivitas lebih cepat dan lebih luas. Ketersambungan jalan tol membuat pergerakan tidak lagi memiliki isu jarak. Otomatis, trading dan investasi makin mudah dan ini memberi efek positif terhadap perekonomian,” katanya.

Ia mencontohkan pengusaha karoseri di Pematang Siantar selama ini tidak mampu menguasai Pasar Sumatera, karena kalah bersaing dengan pengusaha karoseri dari Pulau Jawa. Mengapa? Harga karoseri dari Pulau Jawa lebih murah. Karoseri adalah perusahaan yang melayani pembuatan bodi dan interior kendaraan sesuai dengan kebutuhan tertentu di atas chasis atau kerangka dasar mobil.

“Mudahnya akses transportasi di Pulau Jawa membuat harga mereka lebih bersaing. Kalah pengusaha di Siantar,” katanya.

Jika nanti konektivitas Jalan Tol Trans Sumatera sudah bersambung, Cahyo yakin pengusaha karoseri di Pematang Siantar berpeluang menguasai pasar Sumatera. Karena deliveri via tol lebih cepat dan biaya angkut akan lebih murah.

“Lewat jalan tol, biaya jelas dan terukur. Kecepatan kendaraan yang relative lebih konstan di jalan tol, membuat konsumsi BBM lebih hemat. Waktu tempuh juga lebih cepat. Pengemudi relatif merasa lebih nyaman. Bebas dari pungutan liar. Jalan malam juga tidak perlu was-was karena jalan tol itu single track. Resikonya hanya bosan dan ngantuk,” katanya.

 

 

Cahyo Pramono, sedang bersiap keluar dari gerbang tol Tebingtinggi.
Cahyo Pramono, sedang bersiap keluar dari gerbang tol Tebingtinggi.

Indonesia Mengejar Ketertinggalan

Jalan tol (tax on location) di Indonesia berawal tahun 1978 lalu, dengan dioperasikannya jalan tol Jagorawi sepanjang 59 km. Namun hingga 36 tahun berikutnya, Indonesia hanya memiliki total 780 km jalan tol.

"Selama 40 tahun kita hanya membangun 780 km. Negara lain sudah beribu km. Saya ambil contoh China sudah membangun 280 ribu km, kita 1000 saja enggak dapat. Ini yang saya minta kejar, ada sesuatu yang salah yang harus kita luruskan," ujar Presiden Jokoko Widodo, Maret 2018 lalu.

Padahal, lanjut Jokowi, infrastruktur menjadi salah satu alat pemersatu bangsa karena mengintegrasikan daerah satu dengan yang lainnya, baik jalan, pelabuhan, maupun bandara. Karena itu, Presiden Jokowi menggencarkan pembangunan infrastruktur jalan tol. Menurut Jokowi, infrastruktur digenjot karena Indonesia masih tertinggal dibandingkan Malaysia, Vietnam, dan China.

“….kita akan sambungkan infrastruktur besar dengan kawasan-kawasan produksi rakyat, dengan industri kecil, dengan Kawasan Ekonomi Khusus, dengan kawasan pariwisata, kawasan persawahan, kawasan perkebunan dan tambak-tambak perikanan,” kata Presiden Jokowi saat menyampaikan pidato Visi Indonesia pada tanggal 14 Juli 2019 lalu.

Berdasarkan data pada Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT), sejak tahun 1978 hingga pertengahan Januari 2024 ini total panjang Jalan Tol di Indonesia telah mencapai 2.816 km. Jalan tol itu terbagi di Pulau Jawa 1.782,47 Km, Pulau Sumatera 865,43 Km, Pulau Kalimantan 97,27 Km, Pulau Sulawesi 61,64 Km, dan Pulau Bali 10,07 Km. Seluruhnya termasuk dalam Proyek Strategis Nasional.

Keseluruhan Jalan Tol yang telah beroperasi di Indonesia tersebut dikelola oleh 59 Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) di 73 ruas Jalan Tol yang di dalamnya terdapat 132 Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP).

Dalam pasal 43 Undang‐Undang Republik Indonesia (UURI) No. 38 tahun 2004 tentang Jalan disebutkan, jalan tol diselenggarakan untuk tujuan memperlancar lalu lintas di daerah yang telah berkembang, meningkatkan pelayanan distribusi barang dan jasa guna menunjang pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pemerataan hasil pembangunan dan keadilan, dan meringankan beban dana Pemerintah melalui partisipasi pengguna jalan.

Sementara manfaat jalan tol, yakni berpengaruh pada perkembangan wilayah & peningkatan ekonomi, meningkatkan mobilitas dan aksesibilitas orang dan barang, pengguna jalan tol akan mendapatkan keuntungan berupa penghematan biaya operasi kendaraan (BOK) dan waktu dibanding apabila melewati jalan non tol.

Dan terakhir, Badan Usaha mendapatkan pengembalian investasi melalui pendapatan tol yang tergantung pada kepastian tarif tol.

Apa sih beda jalan tol dengan jalan raya?

Ada beberapa perbedaan dari jalan tol dan jalan raya. Mulai dari batas kecepatan, karakteristik dan akses jalan, hingga rambu lalu lintas.

Pertama, soal kecepatan. Di jalan raya perkotaan, batas kecepatan adalah 50 km per jam, kawasan permukiman 30 km per jam. Di jalan tol, batas kecepatan minimal adalah 60 km per jam, maksimal 80 km per jam.

Kedua, jalan raya bisa digunakan oleh siapa saja tanpa dipungut biaya. Di jalan tol, pengendara harus melakukan pembayaran menggunakan kartu e-toll dan tap out saat keluar.

Presiden RI Joko Widodo didampingi oleh Pj Gubernur Sumut Hassanudin meresmikan Ruas Tol Kuala Tanjung - Tebingtinggi - Parapat  Seksi Tebingtinggi - Indrapura dan Seksi Indrapura - Limapuluh.
Presiden RI Joko Widodo didampingi oleh Pj Gubernur Sumut Hassanudin meresmikan Ruas Tol Kuala Tanjung - Tebingtinggi - Parapat Seksi Tebingtinggi - Indrapura dan Seksi Indrapura - Limapuluh.

Ketiga, jalan raya umumnya memiliki karakteristik menurun, menanjak, berbelok dan memiliki banyak persimpangan. Sementara jalan tol cenderung lurus, menurun, menanjak, sedikit belokan dan tidak memiliki persimpangan jalan.

Keempat, jalan raya memiliki banyak rambu lalu lintas. Sementara, jalan tol tidak memiliki rambu lalu lintas, sebab jalannya cenderung lurus. Meski begitu, kedua jalan ini memiliki simbol perintah, larangan dan peringatan untuk pengendara.

Kelima, lingkungan di jalan raya umumnya dekat dengan gang kecil atau pemukiman warga. Sementara, jalan tol dibangun dengan jarak cukup jauh dari pemukiman.

Pembangunan jalan tol, umumnya dilakukan untuk mempercepat sarana transportasi, perkembangan industri pariwisata, menunjang pertumbuhan dan percepatan proses ekonomi yang kerap terhambat karena kendala transportasi, mengurangi kemacetan akibat pasar tumpah, pasar tradisional, penyempitan jalan, jembatan rusak, jalan yang berlubang dan lain-lain adalah hal yang menghambat proses ekonomi secara merata dan cepat.

 

Jalan Tol Trans Sumatera

Di luar Pulau Jawa, Sumatera adalah pulau kedua yang memiliki istilah Jalan Tol Trans. Mengapa Sumatera?

Sebagai pulau terbesar kedua di Nusantara dengan populasi melebihi 55 juta jiwa, Sumatera dinilai memainkan peran penting dalam perekonomian negara. Sumatera memiliki potensi alam dan komoditas berlimpah, seperti karet, minyak kelapa sawit, kopi, minyak bumi, batu bara, dan gas alam.

Pada tahun 2015, Sumatera menyumbang 22,21% produk domestik bruto (PDB) Indonesia, terbesar kedua setelah Jawa, menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Melihat itu, kemajuan dan keberlanjutan perekonomian Sumatera sangat penting untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan di kawasan tersebut. Jika pertumbuhan terhenti, perkembangan daerah sekitarnya pun akan terhambat

Melalui Peraturan Presiden No. 100 Tahun 2014 yang kemudian diubah dengan Peraturan Presiden No. 117 Tahun 2015, Pemerintah memberi amanat kepada Hutama Karya untuk membangun dan mengembangkan Jalan Tol Trans-Sumatera. Jalan tol ini akan menghubungkan Lampung dan Aceh melalui 24 ruas jalan berbeda yang panjang keseluruhannya mencapai 2.704 km dan akan beroperasi penuh pada 2024.

Tahun 2015, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan groundbreaking (peletakan batu pertama) JTTS ruas Bakauheni-Terbanggi Besar (Bakter), menjadi awal mula pembangunan megaproyek JTTS. Sejak itu hingga saat ini, Hutama Karya telah membangun JTTS sepanjang ±1.030 km. Termasuk dengan jalan tol dukungan konstruksi. Untuk ruas tol Konstruksi 286,4 km dan 743,6 km ruas tol Operasi.

Direktur Utama Hutama Karya, Budi Harto, mengatakan ruas yang telah beroperasi secara penuh di antaranya yakni Tol Bakauheni –Terbanggi Besar (140 km), Tol Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung (189 km), Tol Palembang – Indralaya (22 km), Tol Medan – Binjai (17 km), Tol Pekanbaru – Dumai (132 km), Tol Sigli Banda Aceh Seksi 2 – 6 (49 km) serta Tol Binjai – Langsa Seksi Binjai – Tanjung Pura (38 km), Tol Bengkulu – Taba Penanjung (17 km), Tol Pekanbaru – Bangkinang (31 km), Tol Indralaya – Prabumulih (64 km), Tol Indrapura – Lima Puluh (15,6 km), Tol Tebing Tinggi – Indrapura (28,5 km).

Teranyar, Presiden Joko Widodo meresmikan jalan tol Seksi Tebing Tinggi - Indrapura dan Seksi Indrapura - Lima Puluh yang merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera, awal Februari lalu.

“Jalan Tol Indrapura – Kisaran seksi I Indrapura – Lima Puluh (15,6 km) digarap PT Hutama Karya, dan Jalan Tol Kuala Tanjung – Tebing Tinggi – Parapat seksi I Tebing Tinggi – Indrapura (28 km) yang digarap oleh anak usaha Hutama Karya, PT Hutama Marga Waskita (HMW),” kata Budi Harto.

 

Direktur Utama Hutama Karya, Budi Harto, saat peresmian Jalan Tol Indrapura-Lima Puluh.
Direktur Utama Hutama Karya, Budi Harto, saat peresmian Jalan Tol Indrapura-Lima Puluh.

Hutama Karya mencatatkan kinerja keuangan positif pada tahun 2023 (unaudited) dengan mencetak laba bersih sebesar Rp1,66 triliun atau meningkat 215,31% dibandingkan tahun 2022. Dari sisi pendapatan, Hutama Karya mencatatkan sebesar Rp 27,78 triliun pada tahun 2023.

“Keberhasilan Hutama Karya dalam melakukan aksi korporasi melalui kerja sama investasi bersama Indonesia Investment Authority (INA) atas dua ruas tol di Sumatra menjadi tonggak keberhasilan atas kinerja positif yang diraih Hutama Karya pada tahun 2023,” ujar Budi Harto, Direktur Utama Hutama Karya.

Hutama Karya membukukan kinerja positif setelah melakukan kerja sama investasi melalui 2 (dua) ruas jalan tol yakni Medan – Binjai (16,8 km) dan Bakauheni – Terbanggi Besar (140,9 km) dengan total transaksi senilai Rp 20,5 triliun pada Juni 2023 lalu. Kegiatan kerja sama investasi ini berdampak baik bagi perusahaan utamanya dari sisi kinerja keuangan dengan pengurangan bunga bunga dan cicilan pokok perusahaan pada tahun 2025.

Hutama Karya menduduki posisi peringkat 8 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terbesar di Indonesia dari sisi aset dengan total sebesar Rp 170,37 triliun atau meningkat 8,96%.

Budi Harto menyebutkan, sesuai dengan tujuannya, pembangunan infrastruktur jalan tol harus terintegrasi dengan simpul-simpul pertumbuhan ekonomi, seperti kawasan industri, pelabuhan laut, pelabuhan udara, kawasan wisata, hingga permukiman skala besar. “Sehingga betul-betul bermanfaat maksimal baik untuk dunia usaha, pariwisata dan industri,” katanya.

Dengan penyelesaian pembangunan jalan tol dan penggunaannya yang tepat guna, maka infrastruktur jalan tol ditargetkan dapat memberikan efek ganda yang bermanfaat positif bagi perekonomian bangsa. (mea)

Editor : Admin Metro Daily
#Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS)