Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Silaturahmi & Pemaparan Perkembangan Inflasi di SISI BATAS LABUHAN

Leo Sihotang • Jumat, 10 November 2023 | 12:21 WIB
Bincang Media KPw BI Pematang Siantar.
Bincang Media KPw BI Pematang Siantar.
SIANTAR, METRODAILY- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematang Siantar menggelar kegiatan Bincang Media, di Kopi Sio, Jalan Cornel Simanjuntak Pematang Siantar, Rabu (8/11) siang.

Selain untuk silaturahmi, di kegiatan tersebut dipaparkan perkembangan inflasi di delapan kabupaten/kota wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematang Siantar. Kedelapan kabupaten/kota tersebut yakni Pematang Siantar, Simalungun, Batubara, Asahan, Tanjungbalai, Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, dan Labuhanbatu Selatan atau dikenal dengan SISI BATAS LABUHAN.

Kepala KPw BI Pematang Siantar Muqorobin dalam pemaparannya menyampaikan da tiga hal perkembangan ekonomi diwilayah kerja KPw BI Pematang Siantar, yaitu perkembangan inflasi, kinerja perbankan, dan perkembangan sistem pembayaran.

Namun di luar itu, sebenarnya masih banyak kegiatan KPw BI Pematang Siantar dalam rangka pengembangan UMKM, pengembangan ekonomi syariah, serta pengembangan ekonomi digital.

Dipaparkan Muqorobin, terkait perkembangan inflasi, Kota Pematang Siantar di bulan Oktober 2023, Indeks Harga Konsumen (IHK) Umum mengalami deflasi -0,15 persen (mtm).

Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang mengalami deflasi -0,07 persen (mtm) dan nasional yang mengalami inflasi 0,17 persen (mtm).

Secara tahunan, lanjutnya, Kota Pematang Siantar mengalami inflasi 2,90 persen (yoy), sementara secara tahun kalender (ytd) Pematang Siantar mengalami inflasi 1,35 persen (ytd).

“Alhamdulillah, masih turun menjadi angka 0,15 persen. Kami sudah bertemu Wali Kota Pematang Siantar, dan ini salah satu pencapaian dalam rangka menjaga inflasi,” ujarnya.
Muqorobin berharap tidak ada tekanan yang cukup signifikan, termasuk di bulan November terkait inflasi.

“Tetapi di bulan Desember itu, akan ada perayaan Natal dan Tahun Baru. Tapi harapannya, nanti ledakannya juga nggak terlalu tinggi. Nah, dengan koordinasi kami Bersama Pemerintah Kota dan pihak terkait, dan kemudian saya koordinasi dengan wilayah kerja di SISI BATAS LABUHAN, itu nanti di bulan Desember kita programkan terkait mengatasi inflasi agar dapat terkendali. Survei-survei juga telah dilakukan,” papar Muqorobin.

Sementara itu, Kepala Unit Data Statistik dan Kehumasan (UDSK) KPw BI Pematang Siantar, Anto Yulianto menerangkan, deflasi periode Oktober utamanya didorong komoditas cabai merah, ikan dencis, dan wortel. Cabai merah mengalami deflasi -14,50 persen (mtm) dengan andil deflasi -0,13 persen.

Diikuti ikan dencis dan wortel yang masing-masing mengalami deflasi -7,04 persen (mtm) dan -18,31 persen (mtm) dengan andil deflasi masing-masing -0,06 persen dan -0,04 persen.

Berdasarkan pantauan PIHPS, harga cabai merah mengalami penurunan dari Rp45.000 di bulan September 2023 menjadi Rp42.750 di Oktober 2023. Komoditas cabai merah mengalami deflasi seiring berlangsungnya periode panen di beberapa sentra produksi Simalungun.

Sementara itu harga ikan dencis dan wortel juga mengalami deflasi seiring perbaikan pasokan kedua komoditas tersebut dibandingkan periode sebelumnya.

Sedangkan beberapa komoditas pangan pada periode ini terpantau mengalami inflasi, di antaranya beras, nanas, dan gula pasir. Beras mengalami inflasi tertinggi sebesar 1,15 persen (mtm) dengan andil inflasi 0,06 persen.

Diikuti nanas dan gula pasir yang masing masing mengalami inflasi 34,45 persen (mtm) dan 6,05 persen (mtm) dengan andil inflasi 0,04 persen dan 0,04 persen.
Komoditas beras masih melanjutkan tren kenaikan harga di periode Oktober 2023.

Berdasarkan pantauan PIHPS, rata-rata harga beras bulanan mengalami kenaikan dari Rp12.900 di September 2023 menjadi Rp13.100 di Oktober 2023.

Kenaikan harga beras diprakirakan terjadi akibat produktivitas beras nasional yang menurun akibat dampak negatif El-Nino, serta peningkatan harga gabah seiring meningkatnya biaya produksi akibat kenaikan harga BBM dan kelangkaan pupuk bersubsidi.

Sedangkan kenaikan harga gula pasir juga didorong oleh penurunan produktivitas gula nasional akibat El Nino, seperti disampaikan Asosiasi Gula Indonesia (AGI), “Kami memperkirakan produksi gula berkurang 8-9 persen dibandingkan produksi tahun lalu sebanyak 2,386 juta ton.”

Berdasarkan kelompok pengeluaran, deflasi periode ini didorong Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mengalami deflasi -0,52 persen (mtm) dengan andil deflasi -0,20 persen. Sementara itu, beberapa kelompok terpantau mengalami inflasi di periode ini di antaranya Kelompok Transportasi dan Kelompok Pakaian dan Alas Kaki yang masing-masing mengalami inflasi 0,18 persen (mtm) dan 0,26 persen (mtm) dengan andil inflasi 0,02 persen dan 0,01 persen.

Selain itu, berdasarkan disagregasinya, Kelompok Volatile Food mengalami deflasi -1,24 persen (mtm) dengan andil deflasi -0,31 persen. Sementara, Kelompok Core Inflation dan Administered Price masing-masing mengalami inflasi 0,25 persen (mtm) dan 0,13 persen (mtm) dengan andil inflasi 0,13 persen dan 0,03 persen.

Dalam upaya mengendalikan inflasi di Oktober 2023, TPID Kabupaten/Kota di Wilayah Kerja KPw BI Pematang Siantar telah melaksanakan beberapa program, yaitu, monitoring harga komoditas secara harian melalui PIHPS maupun harga Diskoperinda; pelaksanaan Pasar Murah selama 6 hari di 8 titik pada 2-4 Oktober 2023 dan 23-25 Oktober 2023.

Total komoditas terjual antara lain 8 ton beras; 450 liter minyak goreng; 52 kg gula pasir; dan 340 kg ikan dencis. Pelaksanaan pasar murah untuk komoditas beras, minyak goreng, telur ayam, dan gula pasir di Batubara selama 3 hari di 12 titik. (awa/rel) Editor : Leo Sihotang
#KPw BI Siantar Kurban #BI Siantar