Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang mengalami inflasi sebesar 0,27 persen (mtm) dan realisasi inflasi nasional sebesar 0,09 persen (mtm). Secara tahunan, Kota Pematang Siantar mengalami inflasi sebesar 3,96 persen (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematang Siantar Muqorobin melalui Unit Data Statistik dan Kehumasan (UDSK) menyampaikan, inflasi pada Mei 2023 utamanya didorong oleh kenaikan harga beberapa komoditas. Di antaranya daging ayam ras, rokok kretek filter, dan bawang putih. Daging ayam ras mengalami inflasi sebesar 27,22 persen (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,23 persen. Sementara itu, rokok kretek filter dan bawang putih masing-masing mengalami inflasi sebesar 2,25 persen (mtm) dan 23,18 persen (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,08 persen dan 0,07 persen.
Peningkatan harga daging ayam ras pada periode ini dipengaruhi oleh peningkatan acara hajatan di tengah masyarakat, sehingga mendorong peningkatan tingkat konsumsi daging ayam ras. Peningkatan konsumsi tersebut terkonfirmasi oleh data PIHPS Pasokan, di mana rata-rata pasokan daging ayam ras di Pedagang Besar Kota Pematang Siantar menurun sebesar -32,9 persen (mtm) dari 255,5 ton di April 2023 menjadi 171,5 ton di Mei 2023.
Berdasarkan data harga PIHPS harian, rata-rata harga daging ayam ras mengalami peningkatan dari dari Rp25.797 di April 2023 menjadi Rp34.405 di Mei 2023.
Sedangkan kenaikan harga rokok kretek filter terjadi seiring dengan adanya transmisi kenaikan harga cukai rokok di bulan Januari 2023. Sebagai informasi, Kemenkeu memutuskan menaikkan Cukai Hasil Tembakau (CHT) sebesar 10 persen di tahun 2023 dan 2024.
Sementara itu, kenaikan harga bawang putih tidak terlepas dari adanya keterbatasan pasokan bawang putih di Sumut seiring belum masuknya pasokan impor bawang putih dari China di tahun 2023.
Tekanan inflasi lebih lanjut ditahan oleh beberapa komoditas yang mengalami deflasi pada Mei 2023, di antaranya komoditas cabai merah, anggur, dan buah naga. Cabai merah mengalami deflasi sebesar -29,04 persen (mtm) dengan andil deflasi sebesar -0,14 persen. Sementara itu, anggur dan buah naga masing-masing mengalami deflasi sebesar -10,35 persen (mtm) dan -16,10 persen (mtm) dengan andil deflasi sebesar -0,04 persen dan -0,03 persen.
Cabai merah melanjutkan tren deflasi dari bulan sebelumnya seiring dengan panen yang masih berlanjut sehingga pasokan cabai merah Kota Pematang Siantar kembali terjaga. Sementara itu, penurunan harga anggur dan buah naga juga didorong oleh panen yang terjadi di berbagai sentra petani anggur dan buah naga di Karo.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi periode ini utamanya disumbang oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,02 persen (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,39 persen. Diikuti oleh Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga dan Kelompok Transportasi yang masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,29 persen (mtm) dan 0,30 persen (mtm) dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,04 persen dan 0,02 persen.
Berdasarkan disagregasi inflasi, kelompok Volatile Food mengalami inflasi sebesar 1,28 persen (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,32 persen. Sementara itu, kelompok Inflasi Inti dan Administered Price masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,08 persen (mtm) dan 0,41 persen (mtm) dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,04 persen dan 0,09 persen.
Dalam upaya untuk mengendalikan Inflasi di bulan Mei 2023, TPID Kabupaten/Kota di wilayah kerja KPw BI Pematang Siantar telah melaksanakan beberapa program, yaitu monitoring harga komoditas secara harian melalui PIHPS maupun harga Diskoperindag, pengiriman pertama komoditas cabai merah sebanyak 2 ton dalam MoU KAD Kabupaten Batubara–Kota Medan yang diseremonialkan dalam Kick Off GNPIP Provinsi Sumut, serta pelaksanaan Pasar Murah 29-31 Mei 2023 (3 selama hari di 9 titik) di Kota Pematang Siantar. (rel/awa) Editor : Metro Daily