Sementara itu, secara tahunan Kota Pematang Siantar mengalami inflasi sebesar 6,17 persen (yoy).
Demikian disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematang Siantar Teuku Munandar melalui Unit Data Statistik dan Kehumasan (UDSK) KPw BI Pematang Siantar, kemarin.
Disampaikan, komoditas yang mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi dan dominan memberikan andil inflasi di Januari 2023 (mtm) antara lain ikan asin teri, beras, dan cabai merah masing-masing dengan andil inflasi sebesar 0,17 persen; 0,17 persen; dan 0,10 persen.
Kenaikan harga ikan asin teri utamanya didorong oleh cuaca buruk, sehingga nelayan mengalami kesulitan dalam mencari ikan asin teri di laut. Sementara itu peningkatan harga beras tidak terlepas dari peningkatan biaya pengangkutan akibat kenaikan harga BBM.
Berdasarkan data BPS Provinsi Sumut, rerata harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani meningkat 10,82 persen (yoy) menjadi Rp5.439 di Januari 2023. Sementara harga Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat petani juga meningkat 11,52 perse (yoy) menjadi Rp6.091 di Januari 2023.
Selain itu dari sisi petani, sulitnya mendapat pupuk subsidi sehingga petani harus menggunakan pupuk non subsidi juga mendorong peningkatan biaya produksi petani.
Kenaikan harga cabai merah diprakirakan terjadi karena peningkatan konsumsi masyarakat pasca tahun baru dan tahun baru Imlek di Januari 2023.
Berdasarkan informasi dari responden pedagang cabai merah PIHPS, tingkat produksi petani relatif normal, namun peningkatan konsumsi masyarakat yang meningkat diprakirakan menjadi faktor penyebab kenaikan harga.
Tekanan inflasi lebih lanjut tertahan oleh deflasi yang terjadi di beberapa komoditas di antaranya sawi hijau, bayam, dan ikan dencis. Deflasi pada sawi hijau dan bayam terjadi diprakirakan akibat adanya perbaikan pasokan sayuran dari Kabupaten Simalungun.
Komoditas dengan andil inflasi terbesar yaitu Ikan Asin Teri andil inflasi 0,17 persen; beras andil Inflasi 0,17 persen; cabai merah andil inflasi 0,10 persen, dan upah asisten rumah tangga andil inflasi 0,07 persen.
Sedangkan komoditas dengan andil deflasi terbesar yakni sawi hijau, bayam, ikan dencis, dan daging ayam ras
Berdasarkan kelompok pengeluaran, tekanan inflasi utamanya disumbang oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mengalami inflasi sebesar 2,17 persen (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,83 persen.
Disusul oleh Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan BBRT serta Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yg masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,68 persen (mtm) dan 0,87 persen (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,09 persen dan 0,04 persen.
Dalam upaya untuk mengendalikan Inflasi di bulan Januari 2023, TPID Kabupaten/Kota di Wilayah Kerja KPwBI Pematang Siantar telah melaksanakan beberapa program, yaitu monitoring harga komoditas secara harian melalui PIHPS maupun harga Diskoperindag; pada 27 Januari 2023 dilaksanakan rapat koordinasi TPID dipimpin oleh Sekda dalam rangka menindaklanjuti isu peningkatan harga beras, telur ayam, dan minyak goreng di Pematang Siantar; pelaksanaan Pasar Murah untuk komoditas beras, telur, minyak goreng, dan gula selama 5 hari di 8 titik Kota Pematang Siantar.
Selanjutnya, 12-17 Januari 2023 dilaksanakan FGD bersama TPID Kota Pematang Siantar dan TPID Kabupaten Simalungun dalam rangka evaluasi pelaksanaan program TPID tahun 2022 dan perencanaan program TPID tahun 2023. (rel) Editor : Metro Daily