Hingga saat ini, progres konstruksi Tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat telah mencapai 63,08 persen dan pembebasan lahan 87,7 persen. Dengan menggunakan jalan tol ini nantinya membuat perjalanan menuju Desitinasi Super Prioritas (DSP) Danau Toba hanya memakan waktu kurang lebih 1,5 sampai 2 jam yang sebelumnya dapat menghabiskan waktu 4 jam lewat jalur biasa (jalan arteri).
Pembangunan jalan tol ini ditugaskan kepada Hutama Karya dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya yaitu PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan anak perusahaan PT Waskita Karya (Persero) Tbk yaitu PT Waskita Toll Road (WTR).
Ketiganya kemudian membentuk Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yakni PT Hutama Marga Waskita (Hamawas) untuk pembangunan proyek dengan nilai invetasi Rp13,45 triliun tersebut.
Untuk skema pendanaan, BUJT melakukan sharing modal dengan persentase Hutama Karya 94,08 persen, Jasa Marga maupun WTR masing-masing 2,96 persen.
Direktur Operasi III Hutama Karya Koentjoro menyampaikan, pelaksanaan proyek Tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat, perseroan melalui Hamawas mengerjakan konstruksi di seksi 1 hingga seksi 4, termasuk Junction Tebing Tinggi sepanjang 96,5 kilometer.
Sementara seksi 5 dan 6 merupakan dukungan konstruksi pemerintah atau Viability Gap Fund (VGF). "Dalam pembangunannya, tol ini juga melibatkan perusahaan sub kontraktor/pengusaha lainnya, baik skala pengusaha nasional maupun lokal," jelas Koentjoro dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/3/2022).
Koentjoro berpendapat, para pengusaha ini membantu Hutama Karya dalam menyelesaikan pencapaian target operasional jalan tol serta sebagai komitmen perusahaan untuk membuka lapangan pekerjaan di sekitar proyek tersebut. Nantinya, infrastruktur konektivitas ini menjadi alternatif bagi masyarakat yang akan menuju Danau Toba.
"Tidak hanya akan memangkas waktu tempuh, namun keberadaan tol ini juga diharapkan dapat memudahkan serta melancarkan arus lalu lintas barang (logistik) dari Medan ke Parapat, begitu pula sebaliknya,” tutup dia. (kmp) Editor : Metro Daily