Kenapa disebut mi gomak? Karena disajikan dengan cara diambil dengan tangan atau "Gomak" dalam bahasa Batak Toba. Namun, sata ini penjual Mi Gomak telah menggunakan sarung tangan atau garpu saat proses penyajian.
Secara tampilan fisik, ukuran Mi Gomak lebih besar daripada mi lainnya. Dengan tekstur lembut, kenyal, dan tidak mudah patah saat dimasak. Ketika masak, Mi Gomak bisa disajikan dalam bentuk mi kuah maupun goreng. Yang umum disantap bersama telur rebus dan berbagai jenis gorengan, seperti goreng ubi, pisang, godok-godok, tempe, dan tahu.
Selain itu, Mi Gomak juga sering menjadi campuran gado-gado atau pecal, dan lontong medan. Di daerah-daerah tepian Danau Toba, mulai Porsea, Laguboti, Balige, Tarutung hingga ke Tapanuli Selatan. Bahkan, di Kota Medan dan Deli Serdang, Mi Gomak sangat mudah ditemukan di sejumlah warung sarapan pagi.
Mengutip indonesia.go.id, biasanya orang-orang dari Sumatera Utara yang kemudian tinggal di tanah rantau, punya kenangan kuat tentang Mi Gomak. Karena mi ini umum dijajakan di berbagai tingkatan sekolah, mulai Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Menengah Atas. Karena harganya yang murah dapat membuat perut kenyang sampai pulang sekolah.
Hingga kini, acara-acara arisan, acara keluarga hingga partangiangan (kegiatan doa) komunitas, kerap menyajikan Mi Gomak sebagai hidangan utama. Khususnya di Kota Pematangsiantar. Sebagai kuliner khas Toba, tentulah Mi Gomak layak dipopulerkan, seiring dengan target promosi Danau Toba. Karena, destinasi wisata akan lebih maju jika kuliner lokalnya turut dipopulerkan. (igi/net) Editor : Metro Daily