Petani Sipirok yang mulai membudidayakan talas beneng itu bernama Fadjrin Agung Harlyanda Siagian, beralamat di Desa Pangurabaan, Sipirok.
"Sistemnya bermitra sesuai kesepakatan atau MoU. Tahap awal, bibit talas beneng kita kirim 10 ribu batang seharga Rp3.500 per batang, untuk luas lahan satu hektare milik Fadjrin," kata Pandapotan, Ketua Petani Talas Beneng Desa Purba Tua, Kecamatan Tantom Angkola, Kabupaten Tapsel, Rabu (16/2).
Seluruh hasil panen, lanjutnya, baik daun basah, maupun sudah dirajang berbentuk tembakau serta umbinya, kelak ditampung sesuai standar harga saat itu.
Di samping di wilayah Tantom Angkola, Sipirok, Pandapotan yang Ketua Kelompok Tani ‘Unang Caci Baen Diho’ ini juga menjalin kemitraan dengan petani Labuhan Batu, guna mengembangkan budidaya talas beneng sebanyak 10 ribu batang.
"Talas beneng dari Pandeglang, Banten ini bernilai kualitas ekspor. Empat bulan, daun alas beneng sudah bisa panen. 3-4 lembar bisa satu kilogram. Sedangkan umbinya per dua tahun bisa mencapai berat 40 kikogram,” katanya.
Saat ini budidaya talas beneng di Sipirok dalam tahap pengembangan. “Semoga ke depan, Talas Beneng Desa Purba Tua ini semakin berkembang, untuk membantu membuka peluang ekonomi baru masyarakat di sektor pertanian," harapnya.
Mengenai cara tanamnya, menurut Pandapotan, relative mudah dan tidak merusak tanaman pokoknya. Sistem tanam tumpang sari baik di antara kebun sawit, kopi, durian, pisang dan lainnya. Karena bibit talas beneng butuh tegakan pohon (pelindung). (kp/ant) Editor : Metro Daily