Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Satpam Itu Berwajah Hitam Seperti...

Metro Daily • Senin, 17 Juli 2023 | 12:02 WIB
Horror-Ilustrasi.
Horror-Ilustrasi.
METRODAILY - Ceritanya, saya baru balik ke Indonesia dengan suami dan kami tinggal di sebuah rumah kosong milik papa saya di daerah PIK. Dulu, saya dan saudara perempuan saya sempat tinggal di sini selama 1 tahun karena bekerja membuka cafe. Memang waktu tinggal di sini sering banyak kejadian yang aneh dan itu dikonfirmasi juga oleh satpam area sini.
Suatu waktu, saya dan suami baru saja pulang makan dan kami balik cukup malam. Kalau tidak salah hampir jam 12 malam. Saya sedang mengantuk karena kurang tidur jadi tidak sadar kalau suami saya melewati jalan yang biasanya sudah ditutup oleh satpam aksesnya kalau malam.
Saat saya sadar suami saya melewati jalan ini, saya nyeletuk: "Sayang, ini biasanya sudah ditutup lho jam segini sama si satpam."
Suami membalas, "Masa sih? Coba kita lihat dulu siapa tau belum ditutup. Lagipula aneh kenapa harus ditutup."
Saya terdiam.
Kemudian benar saja setelah sudah sampai di ujung jalan, ternyata portal telah ditutup dan situasi gelap. Saya melihat ada satpam yang sedang duduk di pos satpam dan saya bilang ke suami untuk klakson saja supaya dibukakan. Tetapi, suami saya malah kebingungan. Begini kira-kira isi percakapan kami:
Saya: "Sayang tuh ada satpam lagi duduk, kamu klaksonin aja pelan atau buka jendela panggil dia minta dibukakan. Mestinya sih dia mau bukain karena kan gak susah buka portalnya."
Suami: "He? Mana ya satpamnya, aku kok gak lihat."
Saya: "Itulohhhh di sana, di dalam pos lagi duduk.l," ucapku sambil menunjuk ke arah pos satpam.
Suami: "Mana sih kok aku gak lihat?" di sini suamiku mulai celingak celinguk kebingungan mencoba melihat sosok yang aku bilang.
Saya sudah mulai tidak sabar dan duduk lebih tegak: "ITUUUU Masa kamu gak lihat! Itu loh kan topinya kelihatan ada kepalanya lagi menghadap kesanaaaa! Itu jelas-jelas ada kepala di pos coba kamu lihat. Kalo ngga aku aja deh yang turun samperin."
(maaf saya memang terkadang suka gak sabaran)
Suami: diam, penasaran dan masih berusaha melihat, "Nggak aku aja yang turun, tapi sorry sayang aku beneran gak lihat, yang mana sih kok aku gak lihat ada siapa-siapa ya di post satpam? Kaya apa sih bentukannya?"
Saya: "Ya kaya satpam pakai seragam dan dia pakai topi satpam gitu lagi duduk menghadap ke sana. Aku gak bisa lihat mukanya karena gelap banget. Coba kamu keluar aja kalo gitu, kok dia aneh ya gak nyamperin kita. Biasa kan satpam pasti samperin penghuni yang mau masuk kompleks," ujarku kebingungan
Kemudian suami mengiyakan dan membuka pintu mobil. "Ceklek'
/deg/
Di sinilah tiba-tiba perasaan saya menjadi tidak enak karena suara ibu saya terngiang di kepala. Sebuah nasihat beliau kepada saya sewaktu saya kecil dan masih sangat saya ingat sampai hari ini.
"Nak, kalau kamu melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa lihat maka berhentilah berbicara."
(beliau bicara dalam versi Hokkian)
Tiba-tiba seperti ada genderung drum di kepala saya dan suara jantung saya berdebar sangat kencang. Suami saya sudah membuka pintu dan ingin samperin satpamnya. Saya masih melihat dengan seksama ke arah satpam tersebut, baru saya sadar kalau wajahnya hitam seperti mayat dan seperti bekas terbakar. Kemudian saya menarik tangan suami saya dan berkata,
"Sayang jangan keluar. Tutup sekarang pintunya dan kita putar balik. Jangan banyak tanya dulu. Cepat! NOW!"
Kenapa saya heboh? Karena saya melihat wajahnya berputar ke arah kami secara sangat perlahan.
Saya bisa melihat tatapan mata suami saya yang terlihat sangat kebingungan, tapi di sisi lain saya melihat cahaya di matanya dimana dia sangat percaya dengan saya.
Tanpa banyak bicara ia segera menutup pintu dan menguncinya, kemudian bergegas untuk putar balik. Saya hanya diam dan membantu memberikan ia arahan agar tidak menabrak atau jeblos ke kali karena panik dan suasana sangat gelap mencekam.
Saya kerap mengatakan, "Jangan tanya dulu ya, putar balik dulu, jangan panik, tetap fokus nyetir."
Suami saya ini orangnya super tidak sensitif sedangkan saya cukup sensitif terhadap hal-hal seperti ini sedari kecil karena nurun dari mama saya.
Sewaktu sudah berjalan keluar dari lokasi tersebut baru saya mulai bicara," Sayang, sorry kayanya yang tadi aku lihat itu.. ITU deh. Sorry ya, untung kamu gak keluar tadi karena mendadak aku sadar karena dengar suara mamaku tadi."
Suami: "Gpp, aku uda curiga pas belakangan soalnya aku bingung, aku sama sekali gak lihat satpam yang kamu bilang. Aku mikir apa kita berada di tempat yang sama atau mataku yang picek.", ucapnya sambil cengar cengir.
Saya: "Masih bisa cengar cengir, jantungku uda mau copot takut kamu kenapa-kenapa tadi kalo beneran keluar samperin satpamnya."
Saya gak bisa lupa kejadian ini karena moment-nya terlalu obvious dan saya yakin sekali dengan apa yang saya lihat. Tetapi, saya selalu ingat kata-kata mama di atas.
Suami saya tetap kekeh kalau dia tidak lihat apa-apa, tetapi dia tetap menghargai saya, karena sejak bareng saya memang dia juga pernah mengalami kejadian yang agak aneh. Hanya saja karena dia cuek dan tidak peka, jadi yauda dan terkadang malah tidak sadar.
Oia, alasan kenapa satpam daerah sana selalu menutup portal yang itu adalah karena mereka suka digangguin penunggu Kali (seperti got besar) di sana.
Kata satpam daerah sana adalah adalah bekas rawa dan jadi tempat pembuangan mayat-mayat waktu jaman dulu. Saya uda pernah tau hal ini sewaktu tahun 2016 tinggal di sana bareng my sis karena kami sering mengalami kejadian aneh juga.
Satpam di sana, tidak pernah ada yang mau nongkrong di portal tersebut kalau malam. Mereka semua akan nongkrong di sisi satunya dekat jalan besar dan kalo patroli ke sana tidak akan mau sendirian.
Oia setelah saya ingat-ingat lagi, sosok tersebut bukanlah sosok satpam tetapi makhluk itu mengenakan kostum berwarna hijau gelap khas tentara. Karena dia duduk di pos satpam saya langsung asumsi itu kostum satpam karena gelap. (Quora) Editor : Metro Daily
#cerita horror