Yang bikin bergidik bulu kuduk, suara mereka saat ngobrol di angkot, tidak begitu jelas, dan suaranya tidak seperti manusia biasa.
Netizen mengaku bernama Ujang menuturkan serita lengkapnya:
Kejadiannya sekitar tahun 1997, atau 25 tahun yang lalu. Saya pulang dari Sumedang menuju Tanjungsari, sekitar jam 11 malam naik angkot 04.
Saya naik di perempatan Polres Sumedang, yang sekarang jadi Tugu Binokasih. Angkot yang ngetem sudah setengah jam lebih, tidak ada lagi penumpang lain.
Saya, tadinya duduk di belakang, namun karena kosong akhirnya pindah ke depan, bersebelahan dengan sopir.
Sekitar jam 11 malam, itu angkot baru jalan dari bundaran binokasih, menuju Cileunyi, sesuai jalurnya.
Tidak ada kejadian istimewa dalam awal perjalanan, suara musik dari tape mobil disetel pelan. membuat saya agak mengantuk.
Ntah di mana, saya tidak begitu ingat, pokoknya sebelum masuk Cadas Pangeran ada 4 orang perempuan muda sebut saja 4 gadis cantik, naik angkot.
Sekilas, ada yang berbaju putih dengan rok pendek, ada pula yang rambutnya terurai sebahu. Mereka berpakaian seperti pegawai kantoran. Tidak urakan, dan normal.
Terlihat sekilas demikian. Saya tidak begitu peduli dan memang biasanya juga tidak pernah peduli dengan penumpang lain.
Yang tadinya hanya berdua di angkot sekarang jadi berenam. Dua di depan, saya dan sopir. Sedangkan di belakang, ada 4 gadis cantik tersebut.
Sekilas mereka mengobrol, namun tidak begitu jelas. Dan juga bahasanya tidak begitu dimengerti. Sesekali, mereka tertawa. Sehingga saya menyempatkan diri menengok lewat spion yang ada di depan sopir.
"Mereka berkulit putih bersih dan cantik, satunya berambut pirang. ketika saya mencuri pandang lewat spion, si pirang itu sempat mellirik. Akhirnya saya buru-buru, buang muka," kata Ujang.
"Tiba-tiba saya mendengar, ada orang bilang kiiiyii...," kata ujang.
Mungkin kiri, yang berarti stop atau berhenti, karena suaranya kurang jelas.
"Kejadiannya persis di tengah-tengah Jalan Cadas Pangeran, suasananya sepi. Tidak ada motor atau mobil. Tapi sopir menghentikan mobilnya, saya pikir, oh mereka turun di sini" jelas Ujang.
Setelah angkot berhenti, lalu mereka berempat turun, si pirang, sepertinya bertugas sebagai bendaharanya. Dia membayar kepada sopir.
Otomatis tangannya sempat melintas di depan muka saya, lalu saya agak narik badan ke belang, sambil sesekali memperhatikan tangan yang terlihat bersih, mulus.
"Yang bikin kaget, setelah si pirang membayar angkot, pas mau dikasih kembalian, ternyata mereka sudah tidak ada. Mereka hilang".
Sopir angkot, langsung tancap gas mobilnya, sambil teriak. "Teu Mayar Ge Teu Nanaon", katanya. Artinya, nggak bayar juga nggak apa-apa.
Saya yang ikut kaget, karena selain 4 Gadis cantik itu, hilang, sopir ternyata punya cerita lain.
Sampai di ujung Cadas Pangeran, mobil dipacu dengan cukup kencang, hingga sampai Pamulihan.
"Setelah sampai pertigaan Pamulihan, mobil angkot yang saya tumpangi, mulai jalan pelan. Sopir yang napasnya ngos ngos an, mulai bicara."
"Saya sudah dua kali kejadian gini, Kang," katanya. (tinewss) Editor : Metro Daily