Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi Ajak Hidupkan Podah Sang Naualuh Damanik  

Edi Saragih • Senin, 1 Desember 2025 | 19:06 WIB

 

 

Walikota Siantar Wesly Silalahi didampingi Ketua TP PKK Kota Pematangsiantar serta Bupati Simalungun Dr H Anton Achmad Saragih
Walikota Siantar Wesly Silalahi didampingi Ketua TP PKK Kota Pematangsiantar serta Bupati Simalungun Dr H Anton Achmad Saragih

SIANTAR, METRODAILY - Podah Sang Naualuh Damanik merupakan warisan kebijaksanaan leluhur yang mengajarkan delapan pedoman hidup. Podah-podah ini merupakan tuntunan moral dan karakter yang sangat relevan untuk diterapkan dan dihidupkan pada masa sekarang. Nilai-nilai itu yakni: pengasih, pelayan, jujur, berani, bertanggung jawab, teguh pendirian, saling menghormati, dan membangun.

Ajakan itu disampaikan Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH MKn dalam sambutannya pada acara Harungguan Bolon, Patampei Sihilap, dan Marsombuh Sihol Tuppuan Damanik Boru Panogolan (TDBP) Siantar–Simalungun, di Lapangan Adam Malik Pematangsiantar, Sabtu (29/11/2025).

Kehadiran Wesly Silalahi disambut langsung Ketua umum Tuppuan Damanik Boru Panogolan Indonesia Irjen Pol (Purn) Drs M Wagner Damanik dan jajaran pengurus.

Dijelaskan Wesly, Podah Sang Naualuh Damanik bukan hanya filosofi budaya, tetapi juga menjadi modal sosial penting untuk membangun Pematangsiantar yang lebih baik, kota yang rukun, harmonis, dan saling menghargai dalam keberagaman.

"Dengan menghidupkan Podah Sang Naualuh Damanik, kita sesungguhnya sedang membangun fondasi karakter masyarakat yang tangguh, rendah hati, dan beradab," sebut Wesly yang hadir didampingi Ketua TP PKK Kota Pematangsiantar Ny Liswati Wesly Silalahi.

Di hadapan ribuan Tuppuan Damanik Boru Panogolan Siantar-Simalungun, Wesly menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Damanik Boru Pakon Panogolan atas komitmen yang terus-menerus menjaga kekayaan adat, budaya, dan nilai-nilai luhur Simalungun.

Kegiatan tersebut bukan hanya pertemuan keluarga, tetapi juga sarana memperkuat identitas budaya serta mempererat hubungan satu sama lain. Acara Harungguan Bolon dan rangkaian adat lainnya merupakan bentuk nyata pelestarian budaya lokal yang sangat berharga.

"Di tengah perubahan zaman, kita membutuhkan ruang seperti ini untuk memastikan generasi muda tetap memahami asal-usul, menghormati leluhur, dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang menjadi kekuatan masyarakat Simalungun," tukas Wesly.

Wesly menegaskan, Pemerintah Kota Pematangsiantar mendukung penuh kegiatan seperti itu. Sebab budaya yang kuat akan melahirkan masyarakat yang kuat, rukun, dan penuh kebersamaan

Wesly berharap kegiatan tersebut menjadi wadah untuk memperkuat rasa persaudaraan, serta memperkuat solidaritas antar sesama Damanik Boru Panogolan dan seluruh masyarakat Simalungun. Dengan itu, semua akan turut mempercepat terwujudnya Kota Pematangsiantar yang Cerdas, Sehat, Kreatif, dan Selaras.

"Akhirnya, saya mengucapkan selamat melaksanakan Harungguan Bolon, Patampei Sihilap, dan Marsombuh Sihol. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati setiap langkah kita," tutup Wesly.

Ketua Umum Tuppuan Damanik Boru Panogolan (TBDP) Indonesia Irjen Pol (Purn) Drs Maruli Wagner Damanik memberikan apresiasi atas antusiasme dan kekompakan keluarga besar Damanik. Ia menyebut kehadiran generasi muda sebagai kekuatan besar bagi organisasi, karena mereka paling mampu membaca perkembangan zaman dan membawa tuppuan semakin maju.

Menurutnya, TDBP tidak hanya fokus pada pelestarian budaya, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial agar memberi manfaat luas bagi masyarakat Damanik.

Senada dengan itu, Ketua TDBP Siantar–Simalungun Satben Rico Damanik, menjelaskan rangkaian acara Harungguan Bolon, Patappei Sihilap, dan Marsombuh Sihol merupakan momen penting untuk menyatukan keturunan Damanik dari berbagai daerah. Filosofi Marsombuh Sihol, yang berarti “melepas rindu”, menjadi inti kegiatan untuk mempererat hubungan keluarga yang terpisah oleh jarak dan kesibukan.

Marga Damanik dikenal sebagai Sipukkah Huta, sehingga acara tersebut juga menjadi upaya menjaga marwah dan budaya Simalungun. Ia turut menyinggung keberadaan Monumen Raja Sang Naualuh Damanik sebagai simbol persatuan sekaligus pengingat pentingnya menyatukan ide dan langkah generasi penerus.

“Patappei Sihilap bukan hanya nostalgia, melainkan komitmen untuk merawat identitas dan memperkuat fondasi sosial budaya yang telah diwariskan ratusan tahun lalu,” pungkas Satben Rico.(adv)

 

 

Editor : Metro-Esa
#Walikota Pematangsiantar #Wesly Silalahi