MEDAN, METRODAILY – Bencana banjir dan longsor akibat hujan berintensitas tinggi masih melanda Aceh. Laporan terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 32 ribu warga terdampak di dua wilayah paling parah: Aceh Singkil dan Kabupaten Bireuen.
Ribuan rumah terendam, ratusan keluarga mengungsi, dan sejumlah akses vital masih lumpuh.
Aceh Singkil: 25.827 Jiwa Terdampak, Ribuan Rumah Terendam
Hingga Jumat (28/11), banjir di Kabupaten Aceh Singkil belum menunjukkan tanda-tanda surut. Hujan deras sejak 19 November membuat Sungai Lae Cinendang meluap dan merendam tujuh kecamatan. Beberapa desa dengan kontur rendah kini masuk kategori kritis.
BNPB melaporkan:
- 6.579 KK / 25.827 jiwa terdampak
- 684 KK mengungsi di rumah kerabat dan fasilitas umum
- 6.000 rumah terendam
- Sejumlah fasilitas pendidikan, ibadah, kesehatan, dan jalan rusak
- Jalan nasional di Singkil Utara dan Danau Paris terputus
Sebagian titik longsor telah dibersihkan, namun upaya penanganan masih terkendala cuaca dan akses. BPBD Aceh Singkil memperketat respons darurat dengan asesmen lanjutan dan penyediaan perahu evakuasi. Status Siaga Bencana Hidrometeorologi masih berlaku hingga akhir Desember 2025.
Bireuen: Akses Terputus, Warga Bertahan di Meunasah
Di Kabupaten Bireuen, banjir yang terjadi sejak Minggu (23/11) pukul 02.00 WIB juga belum surut. Tingginya curah hujan membuat tiga kecamatan terendam: Makmur, Samalanga, dan Gandapura, mencakup empat gampong.
Dampak yang tercatat:
- 956 KK / 2.272 jiwa terdampak
- 40 KK / 100 jiwa terancam terisolasi
- 12 rumah tergenang, 20 unit rumah terancam isolasi
- TMA berkisar 20–30 sentimeter
Di Desa Ara Lipeh, akses sepanjang delapan meter belum dapat dilalui. Warga Desa Lhok Mambang masih bertahan di meunasah sambil menunggu air surut.
BNPB menyebut situasi masih dinamis dan pemantauan dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi potensi banjir susulan. (Rel)