Lumpur Panas di Madina Diduga Fenomena Alam, Ganti Rugi Masih Dikaji

Editor Satu • Dipublikasikan Jumat, 9 Mei 2025 | 12:05 WIB
Tim Inspektur Panas Bumi Kementerian ESDM bersama Badan Geologi saat meninjau langsung lokasi manifestasi lumpur panas di Desa Roburan Dolok, Kabupaten Madina.
Tim Inspektur Panas Bumi Kementerian ESDM bersama Badan Geologi saat meninjau langsung lokasi manifestasi lumpur panas di Desa Roburan Dolok, Kabupaten Madina.

MADINA, METRODAILY – Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menyatakan bahwa semburan lumpur panas di Desa Roburan Dolok, Kecamatan Panyabungan Selatan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), diduga merupakan fenomena alam, bukan akibat aktivitas manusia atau perusahaan.

Terkait kemungkinan ganti rugi bagi warga yang terdampak, Bobby mengatakan hal tersebut masih akan dibahas bersama Bupati Madina. “Belum (diputuskan). Nanti saya dan Pak Bupati akan pelajari lebih lanjut,” ujar Bobby di Kantor Gubernur Sumut, Rabu (7/5/2025), usai rapat koordinasi dengan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid.

Menurut Bobby, ganti rugi bisa dibicarakan jika kejadian disebabkan oleh aktivitas pembangunan atau perusahaan. “Kalau ini murni karena alam, maka istilahnya bukan ganti rugi,” tegasnya.

Baca Juga: Wali Kota Padangsidimpuan Besuk Jemaah Haji yang Sakit di Mekkah

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Ditjen EBTKE telah menurunkan Tim Inspektur Panas Bumi ke lokasi. Tim yang didampingi unsur pemerintah daerah dan perwakilan Badan Geologi tersebut telah melakukan inspeksi langsung ke tiga titik manifestasi panas bumi, yaitu:

Salah satu titik manifestasi panas bumi berupa kolam lumpur (mud pool) yang muncul di kawasan Desa Roburan Dolok, Madina, Sumut.
Salah satu titik manifestasi panas bumi berupa kolam lumpur (mud pool) yang muncul di kawasan Desa Roburan Dolok, Madina, Sumut.
Menurut penjelasan tim, lumpur yang muncul di lokasi bukan berasal dari peristiwa seperti Lumpur Sidoarjo, melainkan terbentuk akibat air hujan dan air tanah dangkal yang terperangkap di lubang-lubang uap, sehingga menciptakan kondisi tanah yang basah dan lembek.

Baca Juga: 2 Kg Ganja Diamankan, Satu Pengedar Ditangkap di Tapsel

Tim juga telah mengambil sejumlah sampel gas, air panas, lumpur, dan air sungai yang menjadi sumber air baku warga. Seluruh sampel kini sedang dianalisis di Laboratorium PSDMBP Badan Geologi di Bandung.

Hasil analisis ini akan menjadi dasar untuk menyimpulkan penyebab pasti munculnya manifestasi panas bumi di Desa Roburan Dolok, Madina.

Penjelasan resmi dari pemerintah pusat pun menegaskan bahwa manifestasi tersebut bukan disebabkan oleh aktivitas PT SMGP, meskipun lokasi berada di sekitar wilayah kerja panas bumi perusahaan tersebut. (dtksmt/Mineru/Prokopim)

Editor : Editor Satu
lumpur panas Madina